• BMH

  • Daftar Halaman

  • Tulisanku

  • Arsip-arsipku

  • Facebook

  • Iklan – Adsense




  • Pos-pos Terbaru

  • Tulisan Teratas

  • Blog Stats

    • 130,771 hits
  • Foto-foto Flickr

    Lebih Banyak Foto

Bahan PAK-4 : “BATAS – BATAS BERPACARAN”

BATAS – BATAS BERPACARAN

Segala sesuatu yang kita lakukan tentunya memiliki batas-batas tertentu, tidak boleh asal dilakukan. Dalam hal berteman atau bersahabat juga memiliki batas-batas tertentu. Demikian hal dengan berbapacar, juga ada batas-batasnya. Batas-batas itu tentunya sangat bervariasi dari tempat ke tempat, dari suku ke suku. Namun pada umumnya ada kesepakatan bahwa dalam berpacaran sedikit banyak sudah ada janji untuk saling mengikat diri dengan pasangannya. Ini berarti mulai ada keterbatasan pergaulan dalam diri mereka yang sudah mulai berpacaran.

1. Batas-Batas Pacaran

Orang yang terbuka hantinya dan menyadari cinta-kasih Ilahi, ingin memberikan tanggapan dalam semangat cinta. Bagaimana ia dapat memberikan tanggapan yang berarti, jika ia tahu Tuhan tidak membutuhkan sesuatupun? Yohanes memberikan cara sebaiknya : “Apakah cinta itu?” Kita mengenal dari kenyataan bahwa Yesus telah menyerahkan nyawanya untuk saudara-saudaranya…, “Saudara-saudara yang terkasih, hendaklah kita cinta-mencintai, karena cinta kasih berasal dari Tuhan”. Barang siapa mencintai, dia lahir dari Tuhan dan dia mengenal Tuhan. Sebab, Tuhan adalah cinta kasih…, “… tak seorangpun melihat Tuhan tetap di dalam kita dan cinta kita akan Dia menjadi sempurna” (1 Yoh 3:16; 4:7-12).

Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan :

Proses peralihan dari subjective love ke objective love

Subjective love yaitu kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima. Tidak memperhitungkan apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh sipenerima. Sedangkan objective love memberi sesuai dengan apa yang baik yang benar-benar dibutuhkan sipenerima yang positif yang memang menjadi hak dan miliknya (bnd Kej 20:5; Israel milik Allah). Pacaran muda/i Kristen harus ditandai dengan jealous love. Mereka tidak boleh menuntut sesuatu yang bukan atau belum menjadi haknya (misal : hubungan seksual).

Proses peralihan dari romantic love ke real love

Romantic love adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda/i yang berpacaran biasanya terjerat pada romantic love mereka semata-mata menikmati hidup ini sepuas-puasnya tanpa mempertanyakan realitanya. Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang kepada hal-hala yang realistis (Yoh 3:3; Amsal 1:7; Kid 8:7).

Isi dan pusat dari pacaran tidak lain adalah aktivitas nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, dsb, sehingga sepuluh tahun pun tetap merupakan dua pribadi yang tidak saling mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda, artinya juga bisa berekreasi dan sebagainya, tetapi isi dan pusatnya bukan pada rekreasi itu sendiri tetapi pada dialog, yaitu interaksi dua pribadi secara utuh, sehingga hasilnya adalah suatu pengenalan yang benar dan mendalam.

Proses peralihan dari sexual oriented ke personal oriented

Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih atau melampiaskan kebutuhan seksual. Orientasi kedua insan tersebut, bukanlah pada hal-hal seksual, tetapi sekali lagi seperti yang telah disebut di atas, yaitu pada pengenal pribadi yang mendalam. Jadi, masa berpacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu, pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”.

Dalam bagian ini, kita diperhadapkan dengan satu pertanyaan, “Apakah dalam masa pacaran boleh ada keterlibatan seksual?” Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu ditanyakan dulu apa pengertian seks menurut ajaran Kristen. Seks adalah bagian dari pernikahan resmi. Oleh karena hubungan yang secara resmi sudah dipersatukan dan dipermuliakan serta mengembangkan kesatuan tersebut. Dengan tujuan procreation (berketurunan) maupun tujuan pemeliharaan kesatuan itu sendiri.

Alkitab tidak mengajarkan pengertian seks semata-mata sebagai alat kelamin. Alkitab menyaksikan bahwa seks menunjukkan kepada keberadaan manusia seutuhnya. Manusia diciptakan sebagai makhluk seks (sexual being), laki-laki dan perempuan yang berbeda satu sama lain (Kej 2; 18–25). Bukan hanya alat kelamin dan emosi yang menyertainya, tetapi seutuhnya termasuk cara berpikir, tingkah lakunya, ekspresi dirinya. Sebagai sexual being manusia laki-laki berbeda dengan perempuan. Dalam pengertian ini keterlibatan seks tidak mungkin dihindari. Karena setiap interaksi laki-laki dan perempuan selalu interaksi dari dua sexual being yang berbeda. Suatu interaksi dan keterlibatan seks yang tidak selalu menimbulkan sexual arousal (rangsangan pada alat kelamin).

Oleh karena itu, apabila keberadaan dari pacaran adalah persiapan menuju pernikahan, maka pacaran tidak sama dengan pernikahan. Ada hal-hal yang menjadi bagian dari pernikahan yang tidak boleh ada dalam pacaran, termasuk hubungan seksual.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s