DR. W.R. Supratman dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

DR. W.R. Supratman dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya


Sekilas tentang W.R. Supratman

Wage Rudolf Supratman (lahir di Jatinegara, Jakarta, 9 Maret 1903 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938 pada umur 35 tahun) adalah pengarang lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya” dan pahlawan nasional Indonesia.

Hari kelahiran Soepratman, 9 Maret, oleh Megawati saat menjadi presiden RI, diresmikan sebagai Hari Musik Nasional. Namun tanggal kelahiran ini sebenarnya masih diperdebatkan, karena ada pendapat yang menyatakan Soepratman dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pendapat ini – selain didukung keluarga Soepratman – dikuatkan keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007.

Maka keluarga Wage Rudolf Soepratman meminta pemerintah dan semua pihak agar menggunakan tanggal 19 Maret 1903 sebagai hari lahir pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” tersebut, dan bukannya  9 Maret seperti yang selama ini dipakai.

“Semua pihak seharusnya mengikuti ketetapan Pengadilan Negeri
Purworejo,” kata peneliti dan pembuat film dokumenter “Saksi-Saksi Hidup Kelahiran Bayi Wage”, Dwi Raharja di Jakarta, Sabtu.

Dalam putusannya pada 29 Maret 2007, PN Purworejo telah menetapkan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir pada Kamis Wage, 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Ketetapan PN Purworejo tersebut sekaligus membatalkan atau menganulir hari kelahiran WR Soepratman yang selama ini digunakan dan diperingati pada 9 Maret 1903.

Bahkan, Megawati Soekarnoputri saat menjabat sebagai Presiden telah menetapkan Hari Kelahiran WR Soepratman pada 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional.

“Diharapkan Hari Musik Nasional itu dapat segera disesuaikan dengan ketetapan PN Purworejo yang menyatakan bahwa WR Soepratman lahir pada 19 Maret 1903,” kata Kak Har, panggilan akrab Dwi Raharja.

Kak Har mengimbau semua pihak seperti para guru, anggota Pramuka, dan para komponis dimana pun mereka berada agar memperingati hari lahir Pahlawan Nasional tersebut pada 19 Maret mendatang.

Demikian pula dengan catatan yang tertulis pada dinding informasi di Makam Pahlawan WR Soepratman di Surabaya, katanya, agar segera diperbaiki sehingga para peziarah tidak menjadi bingung, karena tulisan tanggal lahir sebelumnya salah.

“Saya berharap pada hari-hari selanjutnya, tidak ada lagi penulis sejarah WR Soepratman yang menuliskan tanggal lahir secara berlainan. Yang benar adalah 19 Maret 1903,” kata Kak Har, yang dalam usia tuanya masih aktif dalam kegiatan Gerakan Pramuka.

Ia kemudian menambahkan, keterangan tentang tanggal lahir WR Soepratman itu sebenarnya telah terungkap dalam film dokumenter yang selesai dibuatnya pada Desember 1977 dan kini tersimpan di Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Menurut Kak Har, selain bertemu sejumlah saksi hidup kelahiran bayi Wage Rudolf Soepratman pada 1977, dirinya juga telah bertemu sahabat Wage, Wijayadi, serta keponakan Willem Martinus Van Eldik bernama Hani.

Willem Martinus Van Eldik adalah seorang sersan instruktur KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang mengajarkan musik dan main biola kepada WR Soepratman. Bahkan kemudian biola tersebut dihadiahkan kepada WR Soepratman,  sehingga dengan biola tersebut lahirlah lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

Ayahnya bernama Senen, sersan di Batalyon VIII. Saudara Soepratman berjumlah enam, laki satu, lainnya perempuan. Salah satunya bernama Roekijem. Pada tahun 1914, Soepratman ikut Roekijem ke Makassar. Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik.

Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool di Makassar sampai selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar.

Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Makassar, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan itu tetap dilakukannya sewaktu sudah tinggal di Jakarta. Dalam pada itu ia mulai tertarik kepada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa. Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.

Soepratman dipindahkan ke kota Sengkang. Di situ tidak lama lalu minta berhenti dan pulang ke Makassar lagi. Roekijem sendiri sangat gemar akan sandiwara dan musik. Banyak karangannya yang dipertunjukkan di mes militer. Selain itu Roekijem juga senang bermain biola, kegemarannya ini yang membuat Soepratman juga senang main musik dan membaca-baca buku musik.

W.R. Soepratman tidak beristri serta tidak pernah mengangkat anak.

Kisah W.R. Supratman dalam menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Ketika tinggal di Jakarta, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya.

Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kodisi dan situasi pada waktu itu, lihat Sugondo Djojopuspito). Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Soepratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan.

Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda, sampai jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang terakhir “Matahari Terbit” pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM jalan Embong Malang – Surabaya dan ditahan di penjara Kalisosok-Surabaya. Ia meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Lagu Indonesia Raya (diciptakan tahun 1924, pada waktu ia berusia 21 tahun) pertama kali dimainkan pada Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) tanggal 28 Oktober 1928. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, lagu yang dikarang oleh Wage Rudolf Soepratman ini dijadikan lagu kebangsaan.

Sejarah

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan “lagu kebangsaan” di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.

Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya.

Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ikuti lagu itu dengan mengucapkan “Mulia, Mulia!”, bukan “Merdeka, Merdeka!” pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.

Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.

Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.

Deskripsi Lagu

Bentuk Pantun: Proposta (tanya) dan Riposta (jawab)

Pada tahun 1924, WR Supratman telah menerapkan syair dan lagu Indonesia Raya dalam Gaya Pantun Proposta dan Riposta. Apa itu Proposta (tanya) dan Riposta (jawab)?

Proposta dan Riposta dalam teori musik adalah sebuah ungkapan seperti pantun yang saling berpasangan. Artinya, sebuah Proposta (tanya) akan disambut dengan Riposta (jawab), dalam segi melodi maupun syair

Proposta: Indonesia Tanah Airku (seolah-olah menyatakan)

Riposta: Tanah Tumpah Darahku (seolah-olah menjawab)

Proposta: Di sanalah aku berdiri (seolah-olah menyatakan)’

Riposta: Jadi pandu ibuku (seolah-olah menjawab).

Contoh lain adalah lagu Maju Tak Gentar ciptaan C. Simanjuntak:

Proposta: Maju tak gentar (seolah-olah menyatakan)

Riposta: Membela yang benar (seolah-olah menjawab)

Proposta: Maju tak gentar (seolah-olah menyatakan)

Riposta: Hak kita diserang (seolah-olah menjawab)

Contoh lain adalah Lagu Anak Kambing Saya (NN):

Proposta: Mana di mana anak kambing saya (seolah-oleh menyatakan)

Riposta: Anak kambing Tuan ada di kampung saya (seolah-olah menjawab)

Proposta: Mana di mana anak kambing saya (seolah-olah menyatakan)

Riposta: Anak kambing Tuan ada di Kampung Baru (seolah-olah menjawab)

Bentuk Soneta

Dari susunan liriknya, merupakan soneta atau sajak 14 baris yang terdiri dari satu oktaf (atau dua kuatren) dan satu sekstet. Penggunaan bentuk ini dilihat sebagai “mendahului zaman” (avant garde), meskipun soneta sendiri sudah populer di Eropa semenjak era Renaisans. Rupanya penggunaan soneta tersebut mengilhami karena lima tahun setelah dia dikumandangkan, para seniman Angkatan Pujangga Baru mulai banyak menggunakan soneta sebagai bentuk ekspresi puitis.

Lirik Indonesia Raya merupakan seloka atau pantun berangkai, menyerupai cara empu Walmiki ketika menulis epik Ramayana. Dengan kekuatan liriknya itulah Indonesia Raya segera menjadi seloka sakti pemersatu bangsa, dan dengan semakin dilarang oleh Belanda, semakin kuatlah ia menjadi penyemangat dan perekat bangsa Indonesia.

Cornel Simanjuntak dalam majalah Arena telah menulis bahwa ada tekanan kata dan tekanan musik yang bertentangan dalam kata berseru dalam kalimat Marilah kita berseru. Seharusnya kata ini diucapkan berseru (tekanan pada suku ru). Tetapi karena tekanan melodinya, kata itu terpaksa dinyanyikan berseru (tekanan pada se). Selain itu, rentang nada pada Indonesia Raya secara umum terlalu besar untuk lagu yang ditujukan bagi banyak orang. Dibandingkan dengan lagu-lagu kebangsaan lain yang umumnya berdurasi setengah menit bahkan ada yang hanya 19 detik, Indonesia Raya memang jauh lebih panjang.

Naskah pada Penerbitan Mingguan Sin Po (1928)

Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman di Bandung pada tahun 1924 (pada usia 21 tahun), dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan Nopember 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a – e) dan dengan irama Marcia, Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).

Aransemen Simphony oleh Jos Cleber (1950)

Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.

Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan yang agung, namun gagah berani (maestoso con bravura). Aransemen Jos Cleber sangat sempurna sekali sesuai dengan lagu kebangsaan, di mana permainan biola bersama trompet pada awal lagu (Verse A) merupakan suara yang gagah berani, kemudian di tengah lagu (Verse B) diperdengarkan gesekan biola yang lembut, dan akhirnya pada Refrain (Verse C) terdapat suara biola dan trompet dengan latar belakang suara kontrapun dari Corno yang merdu dan indah sekali bersama seluruh orkestra (tutti) dengan pukulan timpani dan gemercing cymbal, bersama-sama (tutti) yang megah dan agung sebagai lagu kebangsaan yang sangat dihormati dan dimuliakan sekali oleh seluruh Bangsa Indonesia.

Rekamanan Asli 1950 di Jakarta dan Rekam Ulang 1997 di Australia

Rekaman asli dari Jos Cleber tahun 1950 dari Orkes Cosmopolitan Jakarta, telah dimainkan dan direkam kembali secara digital di Australia tahun 1997 berdasarkan partitur Jos Cleber yang tersimpan di RRI Jakarta oleh Victoria Philharmonic pimpinan Adie MS.

Peraturan Tentang Lagu Kebangsaan

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan penggunaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No.44 Tahun 1958.

Ternyata, lirik-lirik lagu Indonesia Raya tersebut telah menimbulkan berbagai pendapat dan juga masalah.

Seharusnya Lagu Kebangsaan itu harus dimasukkan dalam UUD RI Tahun 1945, agar Lagu Kebangsaan Indonesia Raya memiliki dasar yang sangat kuat, sejajar dengan Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Artinya UUD RI Tahun 1945 perlu diamandemen kembali.

Lirik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (yang kita pakai sekarang)

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrain :

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Lirik Asli 1928, Edjaan Baru 1958, dan Ejaan Disempurnakan 1972


A. Original lyrics (1928)

INDONESIA RAJA

I

Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,

Kebangsaan tanah airkoe,

Marilah kita berseroe:

“Indonesia Bersatoe”.

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg’rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s’lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,

Poesaka kita semoIndonesia, tanah airkoe,

Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,

Kebangsaan tanah airkoe,

Marilah kita berseroe:

“Indonesia Bersatoe”.

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg’rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s’lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,

Poesaka kiteanja,

Marilah kita berseroe:

“Indonesia Bersatoe”.

Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoea,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.

III

Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah jang terkoetjintai,

Marilah kita berdjandji:

“Indonesia Bersatoe”

S’lamatlah rajatnja,
S’lamatlah poet’ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg’rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrain

Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg’rikoe jang koetjinta.
Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

B. Official lyrics (1958)

INDONESIA RAJA

I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri,
Djadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rajatku, sem’wanja,
Bangunlah djiwanja,
Bangunlah badannja,
Untuk Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang mulia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah aku berdiri,
Untuk s’lama-lamanja.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanja,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnja,
Suburlah djiwanja,
Bangsanja, Rajatnja, sem’wanja,
Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja,
Untuk Indonesia Raja.

III

Indonesia, tanah jang sutji,
Tanah kita jang sakti,
Disanalah aku berdiri,
Ndjaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah jang aku sajangi,

Marilah kita berdjandji,

Indonesia abadi.

S’lamatlah rakjatnja,
S’lamatlah putranja,
Pulaunja, lautnja, sem’wanja,
Madjulah Neg’rinja,
Madjulah pandunja,
Untuk Indonesia Raja.

Refrain

Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku jang kutjinta!
Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raja.

C. Modern lyrics

INDONESIA RAYA

I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

II

Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

III

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N’jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah yang aku sayangi,

Marilah kita berjanji,

Indonesia abadi.

S’lamatlah rakyatnya,
S’lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg’rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrain

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Kiranya Pemerintah Memperhatikan hal ini, Hidup Indonesia….!!!!

Mohon maaf, saya sebagai blogger sengaja mempublikasikan lagu ini agar diketahui oleh semua pihak dan untuk ditindaklanjuti. Tidak ada unsur politik atau kepentingan pribadi, melainkan untuk menjaga keutuhan Kesatuan Negara Republik Indonesia, sekaligus menghargai lagu kebangsaan Indonesia Raya. Teksnya dapat diunduh (download), klik : Teks Versi Asli dan Teks Versi Modern.

Khusus untuk Musiknya dapat diunduh di sini, klik: Indonesiaraya.ogg


(Teks format jpg dan Musiknya dalam bentuk format Ogg dapat disebarluaskan, namun tidak diperjual-belikan karena hak cipta dilindungi undang-undang).

Sumber-sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Raya

http://id.wikipedia.org/wiki/Soepratman

http://www.kompas.com/read/xml/2008/03/15/13014635

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=660&Itemid=25

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4715/39/

Dirangkum dan ditulis ulang oleh :

B. Marada Hutagalung

http://maradagv.multiply.com

http://maradagv.worpress.com

http://maradahtgalung.blogspot.com

About these ads

7 Tanggapan

  1. BUng Marada H., ini info penting : Harri SELASA, 8 OKtober 2013 kemarin, Bupati Purworejo Drs. H. Mahsuin Zain, MAg. bersama bbrp. pejabat Pemkab Purworejo (al. Kadin P & K, Kabag Kesra) dan saya (diundang dlm. kapasitas sbg.budayawan / pegiat upaya pelurusan sejarah tempat dan tgl. lahir WRS), menerima resmi tamu Tim Penulisan Sejarah Terciptanya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dari Sekretariat Negara RI, yang dipimpin Prof.Dr. Sihol Situngkir (stafahli Menteri Bid. Eko-kesra)*dan Prof.Dr. Dadan Wilda (staf ahli Menteri Bid. Humas), dalam rangka melacak / mencari data dan informasi lapangan ttg. lokasi tempat lahir WRS di Ds. Somongarti Kaligesing Purworejo. Sesudah dialog di Kantor BUpati, dilanjutkan bersama ke Desa Somongari, diterima dan dialog dengan Kades / perangkat serta wakil / keturunan keluarga Mbok Senen (Ibu dari WRS), diteruskan ke rumah bekas tempat lahir WRS di dukuh Trembelang (1,5 km naik dari Balai Desa). Di rumah yang pernah ditempati alm Soprono (kakak dari ibu Senen), yang pada 2007 telah dipugar Bupati Purworejo (tanpa mengubah arsitekturnya), kami beristirahat, sambil makan snack tradisional ‘ketela nyamplung’ (ketela yang direbus dengan nira kelapa, wah sedap gurihnya!). Kedua Profesir bersama dua pembantunya banyak mengambil gambar, termasuk di sudut kecil yang ditandai pohon puring, yaitu tempat ‘ari-ari’ (plasenta) WRS dahulu ditanam. Tim Penulisan telah meyakini bahwa benar di situlah tempat lahir WRS, dan percaya hari lahirnya yang benar Kamis Wage, 19 Maret 1903 (cf. Penetapan PN Purworejo No. 04/Pdt/P/2007/Pn.Pwr th. 2007). Harapan dan doa saya, dengan terbitnya buku Sejarah Terciptanya Lagu Kebangsaan kita, yang memuat Biodata WRS di atas, akan mengakhiri polemik Riwayat tempat lahir dan tanggal lahir beliau, yang terjadi sejak 1976 yang lalu. Semoga!

    • Terima kasih atas infonya. Kl sudah terbit mohon diinfokan, ya bung. Salam.

  2. Perihal PELURUSAN tempat lahir dan tanggal lahir WR Supratman, mustinya menjadi tanggungjawab semua fihak terutama Pemerintah (Pusat) cq, Sekneg, Mensos dan Mendikbud. Kesaksian ‘lugas’ warga ds. Somongari Kaligesing Purworejo, yang dibenarkan oleh kerabat ahliwaris WR Supratman (al. Eddy Sitinjak cucu keponakan yang hadir pada Seminar Nasional Pelurusan Tempat & Tanggal Lahir WRS 18 Juli 2006 di Pendopo Kab. Purwortejo), serta telah ditetapkan dengan Penetapan PN Purworejo No. 04/Pdt/P/2007/Pn.Pwr mustinya sudah cukup kuat bagi Pejabat yang berwenang untuk membuat ralat / pelurusannya. Dan kemudian menjadi kewajiban massmedia, terutama penertbit buku-buku pelajaran / sejarah kepahlawanan untuk melakukan perubahan / penyesuaian yang sam,a pada penerbitan terbarunya. Saya, Soekoso DM, sebagai mantan Ketua Paniatia Seminar 2006 itu hingga kini masih merasa prihatin, kenapa usulan resmi Pemerintah Kabupaten Purworejom dan warga Somongari yang sudah disampaikan ke Pemerintah Pusat 5 tahunan yang lalu seperti tak pernah didengar.
    Tentang penetapan Presiden Megawati tentang Hari Musik Indonesia 9 Maret, saya dengar oleh pengusulnya yaitu fihak PAPPRI mJakarta (Dharma Oratmangun) juga bersedia untuk mengusulkan ralat sesuai dengan hasil pelurusan di atas, tapi ternyata hingga kini sepi-sepi saja. Kalau terhadap kepahlawanan WR Supratman semua serba ‘cuek’ dan kurang apresiatif terhadap pahlawan-pahlawan kita, lalu siapa lagi yang musti menghargainya?
    Atau saking sibuknya mengurus kasus korupsi , kolusi,gratifikasi dan sejenisnya tak ada lagi atensi waktu untuk hal-hal yang berkait dengan pentingnya pembinaan jiwa patriotisme nasionalisme? Semoga lewat peringatan 110 tahun Kelahiran WR Supratman di Purworejo tahun 2013 ini akan membawa pewncerahan kepada kita banagsa Indonesia. Amin.

    • Amin. Saya sangat setuju dengan pendapat Bapak. Masa sampai sekarang hari musik indonesia tidak jelas, ya. Terima kasih atas pendapatnya, pak. Salam.

  3. huuhhh ,, selaiinn indnsiiiaaa ryaa kann jgaa ad !

  4. W.R.SUPRATMAN memang benar-benar seorang pahlawan yang memiliki jiwa perjuangan yang sangat besar, lebih mementingkan bangsa dan negara dari pada kepentingan diri pribadinya.
    Hanya orang-orang yang berjiwa perjuangan yang dapat menciptakan lagu-lagu perjuangan.
    Lagu “Indonesia Raya” adalah lagu yang orisinil bukan jiplakan, Sudahkan kita semua mengetahui dan menghayati “Makna lagu kebangsaan” ini.

    • Bagiku, itu menjadikan isnpirasiku untuk menciptakan lagu-lagu kebangsaan Indonesia…! Terima kasih bro atas komennya…! Hidup Indonesia….!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.