Makna Memuji Tuhan (Eksegetis Mazmur 150)



BAB I. P E N D A H U L U A N

A. Latar Belakang

Memuji Tuhan adalah bagian kegiatan beribadah yang dilakukan manusia, yang di dalamnya ada hal-hal yang mengagung-agungkan Tuhan yang dipercaya oleh manusia tersebut. Namun, memuji Tuhan sering diperintahkan kepada manusia sebagai kewajiban, dan jelas tidak tergantung suasana perasaan atau keadaan (bnd Ayb 1:21). Seperti halnya pada zaman Perjanjian Lama. Beribadah merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Israel. Kegiatan beribadah yang dilakukan oleh umat Israel itu tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Artinya, beribadah sudah menjadi budaya kehidupan mereka. Misalnya, dalam kegiatan perayaan-perayaan Tahun Agama Yahudi telah tertanam dalam kehidupan bangsa tersebut. Hal itulah yang membuat bangsa tersebut harus memuji Tuhan, bahkan puji-pujian yang diluapkan pun tidak hanya sebatas ucapan saja. Tetapi juga dikumandangkan dengan berbagai iringan alat musik (J.D. Douglas, 1995:284).

Bangsa Israel memuji Tuhan tentu ada alasannya. Bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih Allah dengan kasih-Nya yang bebas dan mahakuasa. Pemilihan Allah tersebut benar-benar nyata terhadap bangsa Israel. Melalui kasih-Nya, Ia melepaskan bangsa Israel dari bangsa-bangsa yang telah mengganggu kehidupan bangsa tersebut (J.D. Douglas, 1995:266).

Hal itulah yang membuat bangsa Israel memuji Tuhan, sekaligus menjadi kegiatan yang wajib dilakukan oleh umat Israel. Bilamana bangsa Israel menjauh dari Tuhannya, Allah tidak pandang bulu terhadap bangsa tersebut. Bangsa tersebut tetap dihukum tetapi bukan menghancurkan hidup bangsa Israel. Melainkan untuk memberi pelajaran bagaimana bangsa tersebut harus mensyukuri apa yang telah diperbuat-Nya kepada mereka.

Ungkapan ‘Pujilah Tuhan’ (Haleluya) adalah merupakan seruan kepada jemaat yang sudah sering diucapkan oleh para pelayan gereja baik pada kebaktian minggu maupun kebaktian di rumah-rumah. Bahkan jemaat juga ikut menyerukannya.

Kelihatannya memuji Tuhan sudah merupakan sekedar kebiasaan saja, atau orang-orang Kristen memenuhi seruan itu karena dilatarbelakangi oleh agama yang diikutinya atau karena faktor keturunan saja. Sudah beberapa kali dikhotbahkan bahwa Tuhan adalah Allah Yang Maha Kuasa, dan Esa. Oleh karena itu Ia patut dipuji karena ke-Mahaan-Nya. Tetapi jemaat masih banyak belum memahami kenapa Yuhan dipuji. Apalagi masalah tempat pemujian, sering dipahami bahwa Tuhan dipuji hanya pada kebaktian di Gereja saja, atau di rumah-rumah jemaat sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh para pelayan gereja, misalnya ‘partangiang’. Tidak hanya itu saja, kebaktian di gereja untuk memuji Tuhan sepertinya sudah kebiasaan dengan menggunakan alat musik tunggal, yaitu organ. Wajar saja memang bila hal itu digunakan, namun bagaimana dengan alat musik lainnya, dapatkah digunakan untuk mengiringi pujian yang dinyanyikan. Pengunaan alat musik merupakan salah satu ekspresi untuk memuji Tuhan. Namun, jemaat hanya bisa memahami bahwa pujian dapat dikumandangkan dengan bernyanyi saja dan diringi oleh alat musik organ.

Kitab Mazmur merupakan kitab yang paling banyak menyerukan pujian. Khususnya pada pasal 150. Di dalamnya terdapat beberapa seruan untuk memuji Tuhan. Bahkan seruan itu mengajak agar manusia memuji Tuhan dengan ekspresi musik dan alat-alatnya. Di samping itu, dalam pasal ini pemazmur berusaha agar umat manusia memuji Tuhan pada tempat kudus. Dari seruan pujian itu, pemazmur berusaha menyampaikan apa yang menjadi makna dari memuji Tuhan, sehingga Tuhan harus dipuji di tempat yang kudus, dan diekspresikan dengan musik dan alat-alatnya.

Berdasarkan itulah yang melatarbelakangi penulis membuat judul “Makna Memuji Tuhan” yang ditinjau dari studi eksegetis Mazmur 150 dan merefleskikannya pada kehidupan masa kini.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang menjadi makna ‘Memuji Tuhan’ menurut eksegetis Mazmur 150?

2. Bagaimana refleksi teologis memuji Tuhan dalam kehidupan masa kini?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui makna ‘memuji Tuhan’ dewasa ini berdasarkan eksegetis Mazmur 150.

2. Untuk dapat merefleksikan memuji Tuhan dalam kehidupan masa kini.

D. Manfaat Penulisan

1. Untuk menyelesaikan program Studi Strata satu (S1) pada Jurusan Theologia di Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Tarutung

2. Untuk menambah wawasan penulis dalam bidang penafsiran Alkitab, secara khusus penafsiran Mazmur 150.

3. Sebagai bahan masukan kepada gereja-gereja dan mahasiswa teologia.

E. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan adalah metode Kajian Pustaka yaitu Library Research, yang dianggap relevan dengan pokok-pokok yang diperlukan sebagai bahan masukan. Di samping itu, penulis juga menggunakan sumber-sumber lainnya yang dianggap perlu.

Metode penulisan ini tidak terlepas dengan menggunakan penelitian yang berhubungan erat dengan penafsiran Alkitab dan langkah-langkahnya.

F. Sistematika Penulisan

BAB I. PENDAHULAN

Bab ini memaparkan tentang Latar belakang Penulisan, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penulisan, serta Sistematika Penulisan.

BAB II. PENGANTAR KITAB MAZMUR

Bab ini membahas pengetahuan umum tentang kitab Mazmur yang menjadi acuan untuk menafsirkan Mazmur pasal yang ke-150. Hal-hal yang dipaparkan adalah Nama Kitab, Struktur Kitab, Jenis Sastera kitab Mazmur, Penulis Kitab mazmur, Waktu Penulisan Kitab Mazmur, Hubungan Mazmur dengan Nyanyian dan Musik, dan Konteks Umum dan Khusus.

BAB III. STUDI EKSEGETIS MAZMUR 150

Bab ini membahas penafsiran dari kitab Mazmur 150:1-6 dengan lebih awal menguraikan Analisa Nats (teks yang dianalisa, analisa kata per kata, kritik teks, terjemahan), Situasi Kehidupan (situasi keagamaan, kebudayaan, pemerintahan, perekonomian), Konteks Umum dan Khusus, Pengarang dan Waktu Penulisan Kitab Mazmur 150, Struktur Kitab Mazmur 150, Jenis Sastera Kitab mazmur 150, Tafsiran Mazmur 150 (ayat per ayat dan keseluruhan), dan Scopus.

BAB IV. REFLEKSI TEOLOGIS

Melalui eksegetis Mazmur 150, maka dalam bab ini dapat ditemukan refleksinya yang relevan dalam kehidupan gereja pada masa kini, yaitu mengenal Tuhan yang kita puji, Makna Memuji Tuhan dalam kehidupan masa kini, Memuji Tuhan Di Tempat Kudus, dan Memuji Tuhan dengan Nyanyian dan Alat Musik.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bagian inilah penulis menyatukan pendapat penulis sendiri dengan pendapat para tokoh-tokoh dengan konkrit dan logis. Serta mengungkapkan berupa saran-saran yang dapat menjadi pegangan yang utuh dalam kehidupan masyarakat dan pembaca khususnya.


BAB II. PENGANTAR KITAB MAZMUR

A. Nama Kitab

Dalam bahasa Ibrani ada kata mizmor yang artinya “sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan iringan musik”, namun judul kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani adalah ‘tehillim’ artinya ‘puji-pujian’ atau ‘nyanyain pujian’. Bentuk tunggalnya ‘tehilla’. Dalam LXX disebut Psalmoi. Tapi pada kemudian hari dihubungkan dalam Luk 20:42; Kis 1:20, dipakai judul dalam bahasa Yunani secara utuh “Kitab Mazmur” (biblios psalmon). Jadi sebutan nama kitab dalam bahasa Ibrani disebut ‘Tehillim’ dan dalam bahasa Yunani disebut ‘Biblios Psalmon’ (W.S. Lasor:2000:41; Otto Eisfeldt, 1965: 445).

Selain di atas, kitab Mazmur disebut sebagai ‘Kitab Syair’ dalam Perjanjian Lama, yang sama dengan sebutan Kitab Zabur, yaitu kumpulan nyanyian-nyanyian rohani bangsa Yahudi yang sampai sekarang masih digubakan, bahkan orang Kristen masa kini (W.N. McElrath, 1978:88)

B. Struktur Kitab Mazmur

1. Kumpulan-kumpulan Mazmur

6

Kitab Mazmur adalah kitab yang terdiri dari beberapa puji-pujian yang pada awalnya belum dukumpulkan, namun untuk pertama kalinya atas usaha Daud diadakan pengumpulan sejumlah mazmur yang telah ada pada zamannya (Mzm. 1-41; 51-65; 68-72), dan pada pemerintahan raja-raja selanjutnya, diadakan pengumpulan bani Korah dan mazmur Asaf (P.S. Naipospos; Chr. Barth, 1967:8).

Kumpulan lebih awal berisi mazmur-mazmur yang ditulis oleh Daud (Mzm 3 – 41; 51 – 71), Korah (Mzm 42 – 49), dan Asaf (Mzm 50; 73 – 83). Kemudian ditambahkan kumpulan yang lebih kecil seperti nyanyian ziarah (Mzm 120 – 134) dan mazmur-mazmur yang menggunakan ungkapan “Haleluya” (Mzm 146 – 150). Proses berikutnya barulah kumpulan mazmur-mazmur menjadi lima kumpulan atau lima jilid (W.S.Lasor:2001:42).

Kitab Mazmur dapat dibagi dalam lima kumpulan (lima jilid) Mazmur yang pada mulanya berdiri sendiri (Gleason L. Archer, 1965:424; J.Blomendaal, 1996:146). Kelima kumpulan itu adalah sebagai berikut:

· Jilid I : Mazmur pasal 1 – 41.

· Jilid II : Mazmur pasal 42 – 72,

· Jilid III : Mazmur pasal 73 – 89,

· Jilid IV : Mazmur pasal 90 – 106,

· Jilid V : Mazmur pasal 107 – 150.

Setiap bagian akhir dari kumpulan-kumpulan tersebut terdapat kata-kata penutup, contohnya: “Amin ya amin” (Mzm 41:14), atau Haleluya (Mzm 107 –150). Kata-kata tersebut merupakan doksologi.

Pembagian Kelima jilid tersebut telah disusun sedemikian rupa dalam seluruh Alkitab yang diyakini orang-orang Kristen di dunia (termasuk Alkitab bahasa Indonesia).

2. Jenis-jenis Mazmur

Keseluruhan Kitab Mazmur masih dapat dibagi dalam sepuluh kelompok (J.Blomendaal,1996:145; J.D. Douglas, 1995:44). Kesepuluh kelompok-kelompok kitab Mazmur tersebut adalah sebagai berikut:

1) Kelompok Mazmur Pujian, yakni: pasal 33, 65, 68, 96, 98, 100, 103, 104, 105, 117, 145 – 150.

2) Kelompok Mazmur ucapan syukur, dibagi dua sifat yaitu:

· Sifat umum (dipakai oleh jemaat), yakni: pasal 67, 124, dan 135.

· Sifat pribadi (satu orang saja), yakni: pasal 9, 18, 32, 107, 116.

3) Kelompok Mazmur yang memuji YAHWEH sebagai raja, yakni: pasal 47, 93, 97, 99.

4) Kelompok Mazmur Raja Israel, yakni: pasal 2, 18, 20, 21, 45, 72, 110, 132.

5) Kelompok Mazmur Ratapan, dibagi dua sifat yaitu:

· Sifat pribadi, yakni: pasal 3, 6, 13, 22, 25, 38, 39, 42, 43, 51, 61, 63, 86, 102.

· Sifat umum, yakni: pasal 44, 74, 79, 80, 83.

6) Kelompok Mazmur Ziarah, yakni: pasal 120 – 134.

7) Kelompok Mazmur mengenai sejarah Israel, yakni: pasal 78, 95, 105, 106, 114.

8) Kelompok Mazmur Taurat, yakni: pasal 19:8 dst, 119.

9) Kelompok Mazmur Kemenangan, yakni: pasal 18, 46, 66, 76.

10) Kelompok Mazmur Berkat dan Kutuk, yakni: pasal 1, 28, 134 dan pasal 137.

C. Jenis Sastera Kitab Mazmur

Kitab Mazmur dianggap merupakan kitab yang mengandung unsur-unsur pujian di samping disebut sebagai nama atau judul. Bila diperhatikan secara teliti mulai dari pasal 1 sampai ke-150, tak ada satupun pasal-pasal yang berbentuk prosa, atau bentuk dialog. Kebanyakan kata per kata atau kalimat per kallimat disusun dalam bentuk puisi, Karen memiliki bait-bait sebagai ciri khas puisi yang kita ketahui. Kitab Mazmur memang berbentuk puisi dan berisi bait-bait syair, tetapi setiap bait syair merupakan lirik-lirik lagu. Sehingga kitab Mazmur dapat disebut puisi Ibrani.

Pemahaman akan prinsip dan susunan puisi Ibrani adalah hakiki bagi pengertian yang tepat akan mazmur dan tafsirnya. Dalam puisi Ibrani rima tidak berperan, dan yang lebih tepat bicara tentang irama dari pada matra. Ada tekanan irama tiap kalimat dan keseimbangan irama pada kalimat-kalimat. Usaha untuk menemukan sistem dalam syair Mazmur tidak akan berhasil. Sebab puisi Brani tergantung kepada keseimbangan irama dari kalimat-kalimat, tidak kepada sajak dan matra (dalam arti kata itu yang kalsik), sehingga dapat dikatakan kehilangan sedikit sekali bila diterjemahkan.

Roberth Lowth (1710-1787), Guru Besar di Oxford adalah orang pertama yang menaruh perhatian pada asas-asas puisi Ibrani. Dalam uraiannya De Scra Poesi Hebraeorum: Praelectiones Academicae Oxonii Habitae (1753), Lowth menunjukkan bahwa ciri khas syair Ibrani ialah kesejajaran, artinya persesuaian satu baris syair dengan baris yang lainnya atau pengulangan gagasan yang sama dengan kata-kata yang berbeda.

Beberapa macam kesejajaran dibeda-dibedakan sebagai berikut:

1) Kesejajaran sinonim: pada baris pertama dari ayat itu sebenarnya diulangi pada baris-baris kedua dengan kataa-kata yang berbeda (bnd 50; 11; 13, 19; 80:14). Kebanyakan diseluruh kitab Mazmur ditemukan, seperti ayat pada Mzm 114.

2) Kesejajaran antitetis atau kesejajaran berlawanan: pada baris pertama ayat itu diteguhkan, bukan dengan mengulanginya pada baris kedua, melainkan dengan lawannya; contoh: 1:6; 30:6; 37:21).

3) Kesejajaran sintetis atau konstruktif. Di sini kedua baris ayat itu tidak mengatakan hal yang sama, tetapi pernyataan dalam baris pertama berfungsi sebagai basis yang di atasnya baris kedua berdiri, atau hubungannya ialah sebab dan akibat; contoh: 19:8-11; 2:6; 119:121.

4) Kesejajaran yang memuncak atau menanjak, di mana sering baris pertama ayat itu tidak lengkap, tapi baris kedua mengambil beberapa kata daripadanya dan melengkapinya; contoh: 29:1; 121:1-4; 22:5.

Ciri lain dari puisi Ibrani yang perlu diperhatikan, ialah pemakaian akrostik atau penyusunan semua huruf awal dari tiap baris mengikuti pola abjad. Ada sembilan mazmur dalam kitab Mazmur yang huruf pertamanya disusun mengikuti abjad, contoh pasal 111 dan 112 (dalam bahasa aslinya), masing-masing baris mulai dengan satu huruf Ibrani yang berbeda. Tapi pasal 111 disusun dalm delapan pasang baris ayat atau bait dan baris-baris pasal 112 disusun dalam dua bait terdiri dari tiga kelompok.

Isi mazmur-mazmur ini menunjukkan bahwa akrostik itu tidak membelenggu pengilhaman penyair, sama seperti matra atau irama yang telah menjadi ciri umum dari syair barat, tidak mengekang gaya penyair-penyairnya (J.D. Douglas:1995:43).

D. Penulis Kitab Mazmur

Dalam pandangan umum banyak menyatakan bahwa penulis/pengarang kitab ini adalah Daud (Salomo), sebab dalam kitab Mazmur bila diperhatikan banyak ditulis ‘nyanyian Daud’ atau ‘Mazmur Daud’ (‘doa Daud’). Memang hal yang sangat tepat bila dikatakan Daud yang paling banyak menulis kitab Mazmur akan tetapi Daud bukanlah penulis atau pengarang kitab Mazmur seutuhnya, atau bukan seutuhnya ditulis oleh satu orang melainkan beberapa orang (Clarence H.B., 1997:15; W.S. Lasor, 2001:64; Gleason L. Archer, 1965:424; Gleason, 1965:425), yakni:

· Nabi Musa yang memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.

· Daud yang menjadi raja Israel yang kedua.

· Salomo yang menggantikan Daud menjadi raja Israel.

· Asaf, pemimpin biduan/paduan suara pada zaman raja Daud/Salomo, (16:4-5; 2 Taw 5:12).

· Etan dari Ezrahi (orang bijaksana pada zaman Daud, 1 Raj 4:3).

· Anak-anak Bani Korah, penjaga pintu dan pemusik di Bait Allah (1 Taw 9:19; 2 Taw 7; 20:9).

· Beberapa penulis (pemazmur) yang tak dikenal.

Dengan demikian, penulis kitab Mazmur seutuhnya terdiri dari beberapa orang. Karena isi dari pada kitab ini mengandung puji-pujian, maka tepatlah dikatakan bahwa penulis kitab Mazmur adalah para pemazmur.

E. Waktu Penulisan Kitab Mazmur

Kitab Mazmur tidak menyebutkan secara khusus waktu penulisannya, namun ada beberapa keterangan-keterangan yang mendukung, bahwa mazmur 19A di tulis pada masa setelah pembuangan. Namun kitab Mazmur pujian itu lebih banyak dipergunakan pada masa pasca pembuangan. (G. Fohrer, 1978: 284).

Penulisan kitab Mazmur tidaklah secara keseluruhan ditulis dalam satu kumpulan, melainkan ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bahkan urutan penulisan pun tidak berurutan. Sebab penulisan kitab ini tidak hanya dituliskan oleh satu atau dua orang saja pada waktu yang sama atau berdekatan. Di mana, hal itu justru sangat menyulitkan kita yang ingin meneliti kitab ini disebabkan adanya beberapa orang yang menulis dengan kurun waktu dan urutan penulisan yang berbeda.

Walau demikian, dapat diperkirakan bahwa penulisan kitab Mazmur diawali kira-kira pada tahun 1475/1460 SM ketika Musa menulis Mazmur 90, hingga 530/444 SM.

Penyusunan kitab Mazmur yang tidak berdasarkan kronologis ini pun dijabarkan oleh (S.J. Sutjiono, 2003:23-24; Gleason L. Archer, 1965:424;), yakni:

1). Tahun 1460 SM, Musa mengarang Mazmur 90 (mungkin psl 90-100).

2). Daud menulis kitab Mazmur sebanyak 73 Mazmur pada waktu yang berbeda, antara lain:

· Kira-kira tahun 1030-1020 SM, ia menuliskan pengalamannya ke dalam Mazmur 8, 19, 23.

· Kira-kira tahun 1020-1011 SM, ia menuliskan pengalamannya setelah dianiaya Saul (1 Sam 18:7-31) ke dalam Mazmur 7, 17, 22, 31, 25, 52, 54, 56-59, 64, 69, 109, 140-142.

· Kira tahun 1010-971 SM, semasa pemerintahannya menjadi raja ditulis dalam Mazmur 9, 11-12, 14-16, 18, 20-21, 24-29, 32, 34, 36, 41, 53, 60-62, 65-66, 68, 86, 101, 103, 108, 110, 122, 124, 131, 139, 144-145.

· Kira-kira tahun 1000 SM, setelah Daud berbuat dosa dengan Betsyeba dan ditegur oleh Natan ditulis pada Mazmur 51.

· Kira-kira tahun 990 SM, sewaktu Absalom mendurhaka dan memberontak, di situlah ia menuliskan pengalaman masa tuanya dalam Mazmur 3-6, 13, 55, 63, 70, 143.

3). Tahun 980-940, Asaf (pemimpin biduan/paduan suara pada zaman Daud/Salomo, 16:4-5; 2 Taw 512) menulis 12 Mazmur (50, 73-83).

4). Kira-kira tahun 965 SM, Salomo menulis Mazmur (72, 127) selama pemerintahannya.

5). Kira-kira tahun 970 SM, Etan dari Ezrahi (orang bijaksana pada zaman Daud, 1 Raj 4:3) menulis tentang Kasih Setia Tuhan dalam Mazmur 89.

6). Kira-kira tahun 970-586, anak-anak Bani Korah, penjaga pintu dan pemusik di Bait Allah (1 Taw 9:19; 2 Taw 7; 20:9) mengarang sebelas Mazmur (42-29, 84-85, 87-88) tentang pelayanan dan puji-pujian bagi Allah.

7). Kira-kira tahun 1000-500 SM, ada beberapa pengarang yang tidak diketahui/dikenal mengarang Mazmur 1-2, 10, 33, 67, 91, 100, 102, 104, 107, 111-121, 123, 125-126, 128-130, 134-137, 146-150.

Dengan demikian, bahwa penulisan kitab Mazmur dimulai Kira-kira tahun 1476/1460 sampai 530/444 SM.

Kitab Mazmur ditulis dalam tiga masa, yaitu masa praexilis (masa pembuangan), masa exilis (setelah pembuangan), dan masa postexilis (masa pasca pembuangan). Namun kebanyakan mazmur-mazmur ditulis pada masa postexilis (J.Blomendaal:148+149).

Kira-kira tahun 300 SM, tulisan-tulisan dari para pemazmur tersebut barulah dikumpulkan dan disatukan menjadi satu kitab.

Salah satu mazmur yang diciptakan memang sulit dipastikan kapan ditulis, namun jelas bahwa Kitab Mazmur menghimpun nyanyian-nyanyian Israel dari segala abad. (C. Groenen, 1992: 221)

F. Hubungan Mazmur dengan Nyanyian dan Musik

Kitab Mazmur adalah kitab yang paling dekat menginformasikan tentang penggunaan musik adalah kitab Mazmur. Sebab dalam kitab Mazmur terdapat berbagai catatan tentang irama, dan melodi yang harus dituruti apabila mau melagukan mazmur-mazmur itu dan di situ terdapat pula petunjuk-petunjuk bagi orkes pengiring lagu. Dalam Mazmur (seperti pasal 137) adalah penataan musik baru yang dibentuk pada zaman kerajaan, yaitu yang menyatakan adanya tim orkes bait suci pada saat itu. Tim orkes Bait Suci itu ada pada zaman raja Hizkia yang sangat termasyhur, sehingga dirampas oleh raja Babilonia dan diangkut ke Babel (J. Verkuyl: 1992:129).

Dalam kitab Mazmur terdapat beberapa ahli musik yang ada hubungannya dengan kitab lainnya terkhusus dalam kitab 1 Taw. Para ahli musik yang ada dalam kitab mazmur itu adalah Daud, Salomo, Asaf, Etan dari Ezrahi, dan anak-anak bani Korah. Para ahli musik itu (kecuali Daud dan Salomo) adalah merupakan anggota dari 228 orang yang dilatih untuk bernyanyi dan bermusik. Yang menjadi pimpinan utama adalah Asaf, Heman, dan Yedutun (1 Taw 25:6).

Dalam kitab Mazmur banyak terdapat istilah-istilah bahasa Ibrani yang berkaitan dengan musik. Antara lain:

· Higgayon (9:17): yaitu teriakan yang nyaring baik suka dan duka.

· Hasysyeminit (6; 12): yaitu permainan kecapi, dapat dibandingkan dengan musik pawai yang mengiringi Tabut Perjanjian (1 Taw 24:1+5; 26:1+12).

· Haggittit (8; 81; 84): yaitu menurut lagu, Gitit. Kata ini mungkin diarahkan dengan kata menurut lagu mazmur Daud.

· Alamot (45; 46; 55; 57; 58 ; 74): mungkin artinya anak-anak dara yang menyanyi atau biduanita.

· Syosyanim (45; 69; 80): artinya bunga bakung. Mungkin ini menyatakan istilah menurut lagu/Gitit bunga bakung.

· Al’mut laben (pasal 9): yaitu bagian dari gitit, menurut lagu mut-laben.

· Al-tasykhét (58; 59; 75): dalam kitab Mazmur uini diartikan Miktam dari, misalnya miktam dari Daud. Kurang jelas apa maksud dari kata miktam tersebut.

· Lamenatséakh (bnd Hab 3:19): kata ini ada sebanyak 55 kali dalam kitab Mazmur. Ini sering diterjemahkan dengan kalimat untuk pemimpin biduan. Tetapi diartikan juga untuk pujian; untuk rahmat (Allah); untuk penebusan.

· Séla (misalnya 9:17): yaitu Sela, kata ini ada lebih dari 70 kali ditulis dalam kitab Mazmur. Masalah ini masih tetap dalam persoalan para penerjemah atau penafsir, kata ini sering diterjemahkan sebagai: pengerasan suara; selingan musik; perintah untuk melakukan suatu gerakan dalam penyembahan seperti bersujud. Kemungkinan besar kata ini berhubungan dengan nyanyian pujian, walau sampai sekarang belum ditemukan arti yang sebenarnya.

Selain istilah-istilah musik atau nyanyian, beberapa alat-alat musik juga disebutkan dalam kitab Mazmur, yang terbagi dalam tiga kelompok (alat musik tiup, tabuh/pukul, dan petik). Alat-alat musik itu digunakan untuk memuji Tuhan atau mengiringi nynyian pujian, contohnya pada pasal 150:3-5.

BAB III. STUDI EKSEGETIS MAZMUR 150

A. Analisa Nats
1. Teks yang dianalisa
Teks Alkitab yang dianalisa adalah teks dari Perjanjian Lama berbahasa Ibrani berdasarkan teks Biblica Hebreica Stutgartensia (BHS).
Teks yang diambil dari kitab Mazmur 150, yaitu:


2. Analisa Kata Per Kata
Untuk mengetahui dengan jelas mengenai analisa kata per kata dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Ayat 1: · הַלְלוּיָהּ (Halelu Yah), terdiri dari kata: הַלְלוּ (Halelu), dan יָהּ (Yah). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b) יָהּ (Yah) : Objek nama, asal kata יְהוָה (YAHWEH), artinya ‘TUHAN’. · הַלְלוּ־אֵל (Halelu-El), terdiri dari kata: הַלְלוּ (Halelu), dan ־אֵל (-El) a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b) ־אֵל (-El) : Tunggal/Maskulin, artinya ‘Allah, allah/dewa’. · בְּקָדְשׁוֹ (Beqadesyo), terdiri dari tiga kata: בְּ־ (be-), קָדְשׁ (qadesy), dan ־וֹ (-o). a) בְּ־ (be-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) קָדְשׁ (qadesy) : kata sifat, asal kata שׁדק (qdsy), artinya ‘kudus’. c) ־וֹ (-o) : kata ganti milik (III/tunggal/maskulin), yang artinya ‘-nya’. · הַלְלוּהוּ (Haleluhu), terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b) ־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בִּרְקִיעַ (Bireqia), terdiri dari dua kata: בִּ (bi-), dan רְקִיעַ (reqia). a) בִּ (bi-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) רְקִיעַ (reqia) : asal kata (raqia), artinya ‘Cakrawala’. · עֻזּוֹ (Uzzo), terdiri dari dua kata: עֻזּ (uzz), dan ־וֹ (-o). a) עֻזּ (uzz) : asal kata עֹז (oz), artinya ‘kekuatan’. b) ־וֹ (-o) : kata ganti milik (III/tunggal/maskulin), yang artinya ‘-nya’. Ayat 2: · הַלְלוּהוּ (Haleluhu), terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b)־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בִגְבוּרׁתָיו (Vigevurotaw), terdiri dari tiga kata: בִ־ (vi-), גְבוּרׁתָי (gevurota), dan ו־ (-w). a) בִ־ (vi-) : kata depan, artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) גְבוּרׁתָי (gevurota) : bentuk feminim, asal kata (gevura) dengan kata dasar גָּבַר (gavar), artinya ‘kekuatan, kekuasaan, keperkasaan’. c) ו־ (-w) : kata ganti milik (III/tunggal/maskulin), artinya ‘-nya’. · הַלְלוּהוּ (Haleluhu), terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b) ־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · כְּרׁב (Kherov), terdiri dari dua kata: כְּ־ (khe-), dan רׁב (rov). a) כְּ־ (khe-) : kata depan, artinya ‘menurut, seperti, sesuai’. b) רׁב (rov) : kata sifat, asal kata בר (rav), artinya ‘besar, banyak, hebat’. · גֻּדְלוֹ (Gudelo), terdiri dari dua kata: גֻּדְל (gudel), dan ־וֹ (-o). a) גֻּדְל (gudel) : asal kata גָּדוֹל (gadol), artinya ‘besar’. b) ־וֹ (-o) : kata ganti milik (III/tunggal/maskulin), yang artinya ‘-nya’. Ayat 3: · הַלְלוּהוּ (Haleluhu) , terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b)־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בְּתֵקַע (Beteqa), terdiri dari dua kata: בְּ־ (be-), dan תֵקַע (teqa). a) בְּ־ (be-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) תֵקַע (teqa) : kata benda/maskulin, akar kata עקת (taqa: ‘tiup’), artinya ‘tiupan’. · שׁוֹפָר (Syofar) : kata benda, jenis alat musik tiup, artinya ‘Sangkakala’. · הַלְלוּהוּ (Haleluhu) , terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b)־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בְּנֵבֶל (Benevel), terdiri dari kata בְּ־ (be-), dan נֵבֶל (nevel). a) בְּ־ (be-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) נֵבֶל (nevel) : kata benda, jenis alat musik gesek, artinya ‘gambus’. · וְכִנּוֹר (Wekinnor), terdiri dari dua kata: וְ־ (we-), dan כִנּוֹר (kinnor). a) וְ־ (we-) : kata sambung, artinya ‘dan’. b) כִנּוֹר (kinnor) : kata benda, jenis alat musik petik/gesek, artinya ‘kecapi’. Ayat 4: · הַלְלוּהוּ (Haleluhu) , terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b)־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בְתׁף (Vetof), terdiri dari kata: בְ־ (ve-), dan תׁף (tof). a) בְ־ (ve-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) תׁף (tof) : kata benda, jenis alat musik pukul/tabuh, artinya ‘rebana’ (; tamburin). · וּמָחׁל (Umakhol), terdiri dari dua kata: ־וּ (u-), dan מָחׁל (makhol). a) ־וּ (u-) : kata sambung, artinya ‘dan’. b) מָחׁל (makhol) : kata benda/tunggal, asal kata לח (khl), artinya ‘tarian’. · הַלְלוּהוּ (Haleluhu) , terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b)־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בְּמִנִּים (Beminnim), terdiri dari dua kata: בְּ־ (be-), dan מִנִּים (minnim). a) בְּ־ (be-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) מִנִּים (minnim) : kata ini kemungkinan mengarah kata זִמֵּר (zimmer/piel: bernyanyi, bermain musik), dengan adanya kata םי־ (-im) yaitu kata untuk menentukan bentuk penjamakan dengan kata lainnya yang diartikan ‘beberapa’. Diartikan ‘beberapa permainan’. · וְעוּגָב (Weugav), terdiri dari dua kata: וְ־ (we-), dan עוּגָב (ugav). a) וְ־ (we-) : kata sambung, artinya ‘dan’. b) עוּגָב (ugav) : kata benda, jenis alat musik tiup, artinya ‘seruling’. Ayat 5: · הַלְלוּהוּ (Haleluhu) , terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b)־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בְצִלְצְלֵי (Vetsiltseley), terdiri dari dua kata: בְ־ (ve-), dan צִלְצְלֵי (tsiltseley). a) בְ־ (ve-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) צִלְצְלֵי (tsiltseley) : kata benda/Maskulin, asal kata צָלַל (Tsalal) jenis alat musik pukul, yang artinya ‘alat dengungan’. · שָׁמַע (Syama) : Tunggal/Maskulin, artinya ‘memperdengarkan’. · הַלְלוּהוּ (Haleluhu) , terdiri dari kata : הַלְלוּ (Halelu), dan־הוּ (-hu). a) הַלְלוּ (Halelu) : kata perintah (Imperatif)/Jamak, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘pujilah’. b)־הוּ (-hu) : kata ganti orang III/tunggal/maskulin, asal kata א ־הוּ (hu), artinya ‘dia’. · בְּצִלְצְלֵי (Betsiltseley), terdiri dari dua kata: בְּ־ (be-), dan צִלְצְלֵי (tsiltseley). a) בְּ־ (be-) : kata depan, yang artinya ‘di (dalam), dalam, pada, dengan’. b) צִלְצְלֵי (tsiltseley) : kata benda/Maskulin, asal kata צָלַל (Tsalal) jenis alat musik pukul, yang artinya ‘alat dengungan, ceracap’. · תְרוּעָה (Teru’a) : kata benda/tunggal/feminim, akar kata רוּעָה (ru’a), artinya ‘berdentang’. Ayat 6: · כֹּל (Khol) : bentuk jamak/maskulin, artinya ‘semua, masing-masing, seluruh, keseluruhan’. · הַנְּשָׁמָה (Hannesyama), terdiri dari dua kata: הַ־ (ha-), dan נְּשָׁמָה (nesyama). a) הַ־ (ha-) : kata awalan penentu, artinya ‘itu, yang’. b)נְּשָׁמָה (nesyama) : Tunggal/Feminim, perubahan kata dari נֶפֶשׁ (nefesy: nafas), yang diartikan ‘bernafas’. · תְּהַלֵּל יָהּ (Tehallel Yah), terdiri dari tiga kata: תְּ־ (te-), הַלֵּל (hallel), יָהּ (yah). a) תְּ־ (te-) : kata depan, artinya ‘untuk’. b) הַלֵּל (hallel) : kata kerja, asal kata ללה (Halal:Puji), artinya ‘memuji’. c) יָהּ (yah) : Objek nama, asal kata יְהוָה (YAHWEH), artinya ‘TUHAN’. · הַלְלוּ־יָהּ (Halelu-Yah), terdiri dari dua kata: הַלְלוּ (Halelu), dan יָהּ (Yah), yang diartikan ‘Pujilah TUHAN’. Tanda punction maqaf di antara הַלְלוּ dan יָהּ , menunjukkan penekanan Halelu terhadap Yah. 3. Kritik Teks Ayat 1: a. הַלְלוּ יָהּ (Halelu Yah) Kata ini tidaklah begitu dipermasalahkan, hanya saja ini ditambahkan ke dalam beberapa naskah-naskah Perjanjian Lama abad pertengahan, seperti halnya dari naskah terjemahan Siria (Pesyitta) yang disusun menurut keselarasan saksi-saksi kodeks Ambrosianus (abad VI / VII) dan Kodeks London (abad VI). Untuk itu penulis tetap memakainya berdasarkan teks BHS. b. הַלְלוּ־אֵל (Halelu-El) Dalam naskah terjemahan Siria (Pesyitta) yang disusun menurut keselarasan saksi-saksi kodeks Ambrosianus (abad VI / VII) dan Kodeks London (abad VI), bahwa kata יָהּ (Yah: ‘Tuhan’) tidak ada dalam naskah, yang ada adalah kata ־אֵל (El-: ‘Allah’). Ayat 2: (1) בִגְבוּרׁתָיו (Vigevurotaw) Kata ini juga tidak begitu dipermasalahkan. Naskah Siria hanya memberi penjelasan saja, bahwa kata vigvurotaw adalah merupakan kata tunggal. (2) כְּרׁב (Kherov) Pada ayat ini juga tidak ada masalah, hanya saja sedikit dari beberapa naskah PL abad pertengahan, seperti naskah Siria menjelaskan bahwa kata itu tidak ada dalam naskahnya, yang ada melainkan kata בְּ רׁב (berov: ‘dengan besar/kebesaran’), dan penulis tetap memakai kata dalam teks BHS tersebut. Ayat 4: Pada ayat 4a, sedikit jumlah (naskah) dari beberpa naskah-naskah Perjanjian Lama dari abad pertengahan menyatakan bahwa kata מבוּ (uvem) yang pada naskah tersebut, sedangkan kata umatol tidak ada dalam naskah tersebut. Belum dipastikan arti yang sebenarnya kata tersebut sebab tidak terdapat dalam daftar Analitycal atau Kamus Ibrani. Yang jelas kata tersebut mengarah ke arah tari-tarian. Sama sekali tidak ada permasalahan, sebab naskah ini hanyamenyatakan penjelasan bahwa kata tersebut tidak terdapat dalam naskahnya. Pada ayat 4b, pada teks LAI T.B. 1974 ada dicantum kata ‘kecapi’ (bhs Ibrani: Kinnor), namun dalam teks BHS kata tersebut tidak ada. Dengan demikian untuk penerjemahan penulis mengikuti teks BHS lebih dianggap lebih mendekati teks asli. Ayat 6: Naskah terjemahan Yunani “Septuaginta”/LXX (yakni kodeks Aleksandrinus, hasil penelitian ulang Lukianos, kodeks Venorensis), terjemahan Koptik (Mesir), dan terjemahan Siria menjelaskan bahwa kata Halelu-Yah tidak ada (mungkin lebih) dalam naskah mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan kata itu tetap dipakai, sebab naskah/kodeks tersebut hanya menjelaskan saja. 4. Terjemahan Berdasarkan dari teks yang dianalisa maka terjemahan teks dapat dilihat bawah ini yang dibandingkan dengan beberapa terjemahan lainnya:

Terjemahan Penulis dariTeks Biblica Hebreica Stutgartensia (BHS) :

1. “Pujilah TUHAN! Pujilah Allah di dalam kudus-Nya! Pujilah Dia di dalam cakrawala-Nya yang kuat!”

2. “Pujilah Dia di dalam keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai kebesaran-Nya yang hebat!”

3. ”Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!”

4. “Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, Pujilah Dia dengan beberapa permainan dan seruling!”

5. “Pujilah Dia dengan memperdengarkan ceracap, Pujilah Dia dengan ceracap berdentang!”

6. Seluruh yang bernafas untuk memuji-TUHAN! Pujilah-TUHAN!”


Terjemahan LAI T.B. 1974 :

1. ”Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!”

2. ”Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!”

3. “Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!”

4. “Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!”

5. “Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!”

6. Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

Terjemahan LAI BIS 1985 :

1. “Pujilah TUHAN! Pujilah Allah di dalam Rumah-Nya! Pujilah kekuatan-Nya di angkasa!”

2. “Pujilah Dia karena perbuatan-Nya yang perkasa. Pujilah Dia karena keagungan-Nya yang besar.”

3. “Pujilah Dia dengan bunyi trompet, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!”

4. “Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan kecapi dan seruling.”

5. “Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan canang yang berdentang.”

6. Hendaklah semua makhluk hidup memuji TUHAN. Pujilah TUHAN!”


Terjemahan Penulis dari Teks King James Verssion :

1. “Pujilah TUHAN. Puji Allah di tempat-Nya: pujilah Dia di dalam Cakrawala kekuatan-Nya.”

2. “Pujilah Dia karena perbuatan-Nya yang hebat: pujilah Dia sesuai keagungan-Nya yang unggul.”

3. “Pujilah Dia dengan bunyi trompet: pujilah Dia dengan gambus dan kecapi.”

4. “Pujilah Dia dengan rebana dan tarian: pujialah Dia dengan alat-alat musik gesek dan orgel.”

5. “Pujilah Dia dengan canang yang keras: pujilah Dia dengan canang yang bergema tinggi.”

6. “Biarlah Segala sesuatu yang bernafas memuji TUHAN. Pujilah TUHAN.”

Dari beberapa terjemahan di atas, yaitu terjemahan penulis dari teks BHS, terjemahan LAI (T.B.’74 dan BIS’85), terjmahan penulis dari bahasa Inggris versi King James, penulis lebih mememilih teks BHS yang diterjemahkan oleh penulis sendiri dengan alasan bahwa teks BHS dianggap lebih mendekati naskah aslinya. Namun penulis juga menggunakannya terjemahan-terjemahan tersebut sebagai bahan perbandingan, di samping itu dapat juga digunakan sebagai alat bantu untuk menafsirkan teks yang dianggap sulit untuk ditafsirkan.
Adpun analisa perbandingan terjemahan-terjemahan dari berbagai versi adalah sebagai berikut:
Ayat 1:
a. Halelu Yah diterjemahkan dengan “Pujilah Tuhan”, sama dengan terjemahan LAI versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) dan terjemahan King James English Verssion (KJEV). Sedangkan terjemahan LAI versi Terjemahan Baru (T.B.) mengartikannya sebagai Haleluya.
b. Beqadesyo diterjemahkan : di dalam kudus-Nya, sedangkan dalam :
- LAI T.B. mengartikannya : dalam tempat kudus-Nya.
- LAI BIS. mengartikannya : di dalam Rumah-Nya.
- KJEV. mengartikannya : di tempat-Nya.
c. Bireqia uzzo diterjemahkan : di dalam cakrawala-Nya yang kuat, sedangkan terjemahan dalam :
- LAI T.B. mengartikannya : dalam cakrawala-Nya yang kuat.
- LAI BIS. mengartikannya : kekuatan-Nya di angkasa.
- KJEV. mengartikannya : di dalam cakrawala kekuatan-Nya.

Ayat 2:
a. Vigevurotaw diterjemahkan : di dalam keperkasaan-Nya
- LAI T.B. mengartikannya : segala keperkasaan-Nya.
- LAI BIS. mengartikannya : karena perbuatan-Nya yang perkasa.
- KJEV. mengartikannya : perbuatan-Nya yang hebat.
b. Kherov gudelo mengartikannya : sesuai kebesaran-Nya yang hebat.
- LAI T.B. mengartikannya : sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat.
- LAI BIS. mengartikannya : karena keagungan-Nya yang besar.
- KJEV. mengartikannya : karena keagungan-Nya yang besar.

Ayat 3:
a. Beteqa syofar diterjemahkan : dengan tiupan sangkakala, sama dengan terjemahan LAI T.B., sedangkan dalam :
- LAI BIS. dan KJEV.mengartikannya : bunyi trompet .
Ayat 4:
a. Beminnim weugav diterjemahkan : dengan beberapa permainan dan seruling, sedangkan dalam :
- LAI T.B. dan LAI BIS. mengartikannya : dengan permainan kecapi dan seruling.
- KJEV. mengartikannya : dengan alat-alat musik gesek dan orgel.

Ayat 5:
a. Vetsiltsele-syama diterjemahkan : dengan memperdengarkan ceracap.
- LAI T.B. dan LAI BIS. mengartikannya : dengan ceracap yang berdenting.
- KJEV. mengartikannya : dengan canang yang keras.
b. Betsiltsele teru’a diterjemahkan : dengan ceracap yang berdentang, sama dengan terjemahan LAI T.B., sedangkan dalam :
- LAI BIS. mengartikannya : canang yang berdentang.
- KJEV. mengartikannya : dengan canang yang bergema.

Ayat 6:
a. Khol Hannesyama diterjemahkan dengan Seluruh yang bernafas, sedangkan dalam :
- LAI T.B. mengartikannya : Biarlah segala yang bernafas.
- LAI BIS. mengartikannya dengan Hendaklah semua makhluk.
- KJEV. mengartikannya : Biarlah segala seuatu yang bernafas.
b. Halelu-Yah diterjemahkan dengan Pujilah Tuhan, sama dengan terjemahan LAI BIS., dan KJEV., kecuali LAI T.B. dengan mengartikannya menjadi Haleluya.

B. Situasi Kehidupan
Bangsa Israel merupakan bangsa yang dipilih Allah, yang paada awalnya sebelum masa pembuangan, bangsa tersebut tinggal di tanah Kanaan yang makmur dan subur, dan bangsa Israel telah meninggalkan penyembahan Baal dan bebas untuk mengembangkan moral spritualitas serta menyembah Allah (H. W. Robinson, 1954:136). Namun, sejak masa pembuangan terjadi hidup bangsa tersebut, terlebih-lebih iman kepercayaan mereka sering terombang-ambing, dan tidak dapat menikmati hidupnya dengan tenang.
Masa pembuangan tidak hanya sekali saja yang terjadi dirasakan dan dialami oleh Bangsa Israel. Bangsa mengalami tiga kali pembuangan yang dilakukan bangsa Babilonia atas penduduk Yehuda (Yer. 52:28-30). Pembuangan yang pertama berlangsung dalam tahun 597 SM, pembuangan yang kedua berlangsung pada tahun 587 SM, dan pembuangan yang ketiga pada tahun 582 SM (David F. Hinson, 2002: 189-191).
Dalam hal ini dapat kita lihat situasi bangsa Israel dalam tiga masa yaitu masa pembuangan, masa setelah pembuangan, masa pasca pembuangan. Dari ketiga masa tersebut dapat dilihat situasi-situasi kehidupan bangsa Israel yaitu situasi keagamaan, situasi kebudayaan, situasi pemerintahan, dan situasi perekonomian.
1. Situasi Keagamaan
Bangsa Israel sangatlah menderita sebelum keluar dari tanah Mesir. Untuk itulah Allah menugaskan Musa untuk membawa bangsa-Nya keluar dari tanah Mesir. Namun, bangsa tersebut merasa lebih menderita ketika mereka harus menempuh tanah Kanaan selama 40 tahun lamanya. Pada saat Musa ditugaskan oleh Allah ke gunung Sinai, bangsa Israel telah mencoba menyembah Allah lain. Sejak bangsa itu dipilih Allah, para keluarga Israel telah ditekankan untuk mendidik dan mengajarkan anak-anaknya sampai keturunan mengenai hal-hal yang baik di hadapan Tuhan, terlebih-lebih beribadah kepada Tuhan. Mendidik dan mengajar sudah membudaya dalam kehidupan orang Israel. Namun bangsa itu bukanlah bangsa yang terlalu patuh terhadap peraturan dari Allah. Hal itu tampak ketika bangsa tersebut menyembah allah lain, meski sebelumnya telah diajarkan oleh Musa bahwa hanya satu Allah yang harus disembah. Penyembahan allah lain yang dilakukan oleh orang Israel tersebut sebenarnya adalah merupakan pengaruh dari kepercayaan dan kebudayaan dari bangsa Mesir. Sebab sebelum mereka ke luar, bangsa yang kecil itu sudah lama dalam pembuangan di tanah Mesir. Akibatnya sebagian dari orang-orang Israel ikut terpengaruh terhadap kepercayaan dan kebudayan yang di tanah Mesir.
Dalam perjalanan bangsa tersebut juga tidak terlepas dalam acara ibadah. Acara ibadah pada masa itu masih dilakukan di sekitar kemah yang dianggap suci, atau disebut Kemah Suci. Itulah yang menjadi tempat peribadatan orang-orang Israel. Dikatakan Kemah Suci karena tempat pemujaan tersebut masih menggunakan metode bongkar pasang, dengan kata lain tempat ibadah Israel pada waktu itu belum permanen.
Bangsa Israel, sebelum menetap di Kanaan, telah diorganisir sebagai satu persekutuan keagamaan dari 12 suku. Memang mereka satu keturunan, tapi pusat kesatuannya adalah saling mengambil bagian dalam perjanjian dengan Yahweh. Pertanda yang kelihatan dari satu kesatuan perjanjian mereka adalah tabut perjanjian yang disimpan di Kemah Suci (J.D. Douglas, 1990: 448).
Pada Masa Daud sebelum menjadi raja, tempat ibadat orang-orang Israel tidak lagi seperti masa Musa lagi. Namun tempat ibadat tersebut belum seindah Bait Suci yang telah dibangun Salomo.
Bangsa Israel sebelum masa pembuangan tinggal di tanah Kanaan yang makmur dan subur, dan bangsa Israel telah meninggalkan penyembahan Baal dan bebas untuk mengembangkan moral spritualitas serta menyembah Allah (H. W. Robinson, 1954: 136).
Dapat disimpulkan bahwa situasi keagamaan Kitab Mazmur dapat dilihat dalam dua masa, yakni:
1) Masa pembuangan
Agama-agama yang ada pada saat itu didominasi oleh agama yang dianut oleh orang Mesir. Orang-orang Israel pada masa masih sulit beribadah karena didominasi agama Mesir yang menyembah dewa-dewa di kuil-kuil.
2) Masa Pasca-Pembuangan
Allah memilih Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Pada masa Israel dapat bebas beribadah kepada TUHAN (YHWH). Tempat beribadah pada saat itu belum permanen, karena hidup Israel masih nomadis sehingga mereka hanya beribadah di kemah suci, yang dapat kita lihat pada Kel 33:9 (C. Barth, 1993:74+87).
Situasi keagamaan pada masa ini dapat juga dilihat pada masa hidup Daud dan selama Salomo menjadi raja. Kehidupan beragama pada masa Daud sudah memiliki tempat ibadah, akan tetapi bukanlah tempat ibadah seutuhnya seperti pada masa Salomo. Tempat ibadah pada masa Daud disebut Synagoge yang sebenarnya digunakan untuk belajar agama dan Taurat. Sejak Salomo jadi raja, pembangan Bait Suci telah dilakukan dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan ibadah dilakukan di Bait Suci yang telah dibangun di Yerusalem, tempat tersebut sudah menjadi pusat ibadah bagi segenap warga Israel (C. Barth, 1993:76). Pada masa Salomolah puncak kejayaan tersebut, yang berlangsung selama beberapa puluh tahun. Pengaruh perkembangan atas agama Israel tersebut sungguh revolusioner. Pada zaman inilah musik dan alat-alatnya dipakai dengan penuh kemeriahan dan kemewahan, baik pada pesta perayaan agama maupun dalam ibadah. Namun, walaupun agama Israel ada, sedikit demi sedikit agama lainnya telah menyusupi kehidupan Israel melalui kerjasama yang telah dilakukan raja Salomo. Bahkan agama yang sudah sempat hilang di tanah Kanaan, kembali berkembang dengan mempelajari situasi pemerintahan raja Salomo.

2. Situasi Kebudayaan
Kehidupan beragama pada masa pra keluaran, masa keluaran dan masa pasca-keluaran telah membudaya dalam hidup orang-orang Israel. Seperti halnya dengan beribadah, orang-orang Israel dalam kapasitas besar selalu beribadah di tempat yang sudah ditentukan. Seperti halnya pada masa Musa, kebiasan beribadah dilakukan di kemah suci. Masa Daud, kebiasaan beribadah dilakukan di Synagoge. Dan masa Salomo, kebiasaan beribadah dilakukan di Bait Suci di Yerusalem.
Sangat sulit memisahkan budaya dan agama yang sebenarnya dalam kehidupan orang-orang Israel. Sedangkan dalam hal perayaan-perayaan keagamaan bukan lagi sekedar ibadah tetapi sudah menjadi tradisi bagi bangsa tersebut. Bahkan alat-alat musik yang biasanya digunakan dalam pesta pernikahan sudah digunakan dalam ibadah.

3. Situasi Pemerintahan
Situasi pemerintahan pada masa penulisan Kitab Mazmur dapat dilihat dalam dua masa, yaitu:
i. Masa Pembuangan
Bentuk Teokrasi merupakan bentuk pemerintahan bangsa Israel sejak bangsa itu dipilih dan Tuhan sendirilah yang merupakan pemimpin bangsa tersebut. Sekalipun demikian, kehidupan orang-orang Israel masih di bawah naungan pemerintahaan Mesir. Sehingga sulit bagi orang-orang Israel untuk mengenal siapa pemimpin mereka yang sebenarnya.
ii. Masa Pasca-Pembuangan
Pada masa ini pemerintahan Teokrasi masih berlaku, namun berbeda dengan masa pembuangan. Allah memilih Musa bukanlah menjadi pemimpin yang menggantikan Allah seutuhnya namun menjadikan
Musa sebagai perwakilan Allah untuk membawa orang-orang keluar dari tanah Mesir.
Di waktu yang berbeda, pada masa ini juga memberitahukan bahwa orang-orang Israel ternyata sangat membutuhkan seorang raja, setelah lama menetap di tanah Kanaan. Hal itupun dikabulkan Allah, dengan mengutus nabi Samuel untuk memilih dan menobatkan Saul menjadi raja Israel. Periode kepemimpin raja Saul ternyata justru membuat orang-orang Israel benci kepadanya karena selalu mengutamakan pribadinya sendiri dari pada bangsa tersebut. Bahkan tidak mau meninggalkan takhtanya ketika Daud bersamanya. Namun, keinginan Tuhan tidak bisa dilawan. Allah kembali mengutus nabi Samuel agar menobatkan Daud menjadi. Kehidupan masyarakat Israel sangat terganggu karena putra sulung Daud berambisi menjadi raja. Namun, Allah memilih Salomo untuk menduduki takhta kerajaan Israel. Kepemimpinan raja Salomo membuat daerah-daerah sekitarnya tunduk kepadanya sebab dapat memimpin bangsa Israel dengan baik.

4. Situasi Perekonomian
Kehidupan orang-orang Israel ketika masih di bawah kekuasaan kerajaan Mesir sangat memprihatikan sekali. Hidup Orang-orang Israel sangat tertindas. Status mereka berbeda dengan orang-orang Mesir. Orang-orang Israel bukanlah rakyat biasa seperti orang-orang Mesir, melainkan sebagai budak-budak pekerja di tanah Mesir. Situasi ekonomi Israel jauh lebih buruk dari ekonomi Mesir. Untuk mencari kebutuhan sehari-hari, mereka tidak dapat mencari pekerjaan lain kecuali menjadi budak orang-orang Mesir. Mereka hanya bisa memanfaatkan sisa-sisa dari orang-orang Mesir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setelah Israel berada dibawa oleh Musa keluar dari tanah Mesir barulah mereka bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari walau masih berpindah-pindah. Namun Allah masih campur tangan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Pada masa Daud menjadi raja, pertumbuhan Ekonomi bangsa Israel mulai bertumbuh dengan. Namun kehidupan bangsa tersebut masih dalam taraf masa transisi, seperti dengan adanya beberapa pembangunan di daerah tersebut (Th. C.Vriezen:2001:189).
Perekonomian bangsa Israel berkembang dengan pesat barulah pada masa Salomo menjadi raja. Berbagai perubahan telah terjadi di daerah-daerah yang ada di tanah yang ditempati bangsa tersebut. Bahkan dalam mencari kebutuhan sehari-hari tidak lagi hanya sebatas mengolah pertanian. Kehidupan perekonomianpun sudah bersifat heterogen
Namun hal yang paling buruk bagi Allah, Salomo terlalu mengutamakan kerjasama dengan bangsa-bangsa lain dengan tidak melihat pengaruhnya terhadap bangsa Israel. Namun lebih berbeda lagi dibanding masa Daud. Yang dulunya hidup masih nomadis atau pertanian, namun setelah Salomo menjadi raja negara tersebut menjadi kuat dan modern (Th. C. Vriezen; 2001; 190). Dengan mencoba menikahi para perempuan bangsa-bangsa lain dianggap merupakan alat untuk kerjasama dan penghubung bangsa Israel dengan bangsa lain.

C. Konteks Umum dan Khusus
1. Konteks Umum
a) Mazmur merupakan kumpulan puji-pujian bangsa Israel
Kitab Mazmur tidak semuanya ada kata pujian, tetapi kitab Mazmur banyak mengandung unsur-unsur pujian, sehingga kitab ini disebut kitab puji-pujian.
Penulis-penulis kitab Mazmur tidak lain adalah keturunan orang-orang Israel, dengan demikian kitab ini adalah kitab puji-pujian bagi bangsa Israel, dilihat dari isi dan bentuknya kebanyakan mengarah ke orang-orang Israel (Clarence H.B., 1997:13).
Mazmur bukanlah sekedar pujian bagi bangsa Israel, melainkan bagian dari ibadah Israel. Ibadah biasanya berlangsung di rumah Allah di Yerusalem. Peribadatan berlangsung pada waktu terntentu menetapkan kurban pagi dan petang (Kel 29:38-42; Bil 28:2-8), peribadatan pada upacara-upacara sabat dengan kurban-kurban khusus (Bil 28:9-10) dan sejumlah besar peserta kebaktian (2 Raj 11:5-8), dan peribadatan dengan kurban bakaran pada permulaan bulan (Bil 28:11-15; bnd Hos 2:13).
Dalam perayaan-perayaan juga peribadatan dilakukan. Seperti pada hari raya Roti Tidak Beragi dan Paskah, perayaan gabungan pada awal musim semi (Kel 32:15; Im 23:5); hari raya Tujuh Minggu (hari raya menuai pada akhir musim semi, dalam Perjanjian Baru disebut hari Pentakosta; Kel 23:16; 34:22; Bil 28:6; Kis 2:1); hari raya Pondok Daun pada awal musim gugur (Kel 23:16; 34:22; Ul 16:16). Beribadah juga termasuk menyerukan pujian (W.S. Lasor: 2001:60).

b) Mazmur merupakan Firman dan nyanyian
Bila dihubungkan dengan Perjanjian baru, pada hari Pentakosta, Petrus menyebut Mazmur Daud (Kis 1:16; Mzm 41:9), dan Paulus pada waktu di Antiokhia mengutip dari Kitab Mazmur sebagai firman Allah (Kis 13:29-34). Mazmur 2:7 merupakan kutipan yang digunakan untuk menyampaikan firman (Clarence H.B.:1997:13).
Istilah Mazmur tidak dipakai sebagai kitab saja, tetapi kitab Mazmur juga dipakai sebagai nyanyian pujian. Bahkan bermazmur (‘bernyanyi’) untuk memuji, mengajar, menegur orang lain seperti yang diajarkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus dan Kolose (Ef 5:19; Kol 3:16).
Mazmur-mazmur itu memang dikarang untuk dinyanyikan dengan iringan musik. Sebagian besar syair Ibrani berbentuk lirik dan mula-mula diiringi alat musik. Salah satu kata yang diterjemahkan sebagai “Mazmur”, berarti “suatu gubahan berlagu” (Clarence H.B.:1997:12-13).

2. Konteks Khusus: “Panggilan Beribadah untuk memuji Tuhan”
Mzm 150 merupakan seruan beribadah kepada orang-orang Israel untuk memuji Tuhan. Panggilan tersebut bukanlah untuk pribadi lagi, tetapi ajakan untuk banyak pribadi-pribadi, yang tentunya orang-orang Israel.
Dalam kitab mazmur, kata ‘Haleluya’ (‘Pujilah TUHAN’) sering diulangi, bahkan ada pasal tertentu menulis doksologi Haleluya pada kata pembuka dan kata penutup, seperti pasal 106; 113; 135), dan ada hanya menuliskan kata Haleluya pada pembuka saja (Pasal 111; 112) atau pada penutup (pasal 116).
Adanya pengulangan kata Haleluya pada pasal-pasal itu adalah menjelaskan bahwa hanya Tuhanlah yang patut dipuji. Hal itu dapat dihubungkan dengan peresmian Bait Suci di Yerusalem. Peresmian itu bukanlah sekedar pelaksanaan saja tetapi bukti yang menekankan bahwa Tuhan patut dipuji, sehingga peresmian itu diwarnai dengan berbagai nyanyian bahkan diiringi dengan berbagai alat-alat musik untuk memuji Tuhan (2 Taw 5:12). Secara khusus, konteks pada kitab Mazmur 150 adalah ”Panggilan beribadah kepada orang-orang Israel untuk memuji Tuhan”, dan dalam kebiasaan ibadah itu dilaksanakan di Bait Suci di Yerusalem.
Umumnya kitab Mazmur dinyanyikan pada pertengahan dan akhir ibadah. Namun, khusus pasal 150 itu dinyanyikan sebelum ibadah dimulai (J.L. Ch. Abineno, 2000:37).

D. Pengarang dan Waktu Penulisan Kitab Mazmur 150:1-6
Pengarang kitab Mazmur 150:1-6 adalah penulis yang tidak dikenal, atau pemazmur yang tidak dikenal. Kitab Mazmur pasal 150:1-6 ditulis kira-kira tahun 1000-500 SM, yaitu pada masa post-exilis atau setelah masa pembuangan (Jerald F. Dirks, 2003:24; Sutjiono, 2003: 24; Blomendaal, 1999; J.D. Douglas).

E. Struktur Kitab Mazmur 150:1-6
Struktur kitab Mazmur khusus pasal 150 adalah merupakan pembagian ayat per ayat dari Mazmur pasal 150 itu sendiri. Adapun struktur kitab Mazmur 150 adalah :
Ayat 1 : Memuji Tuhan di dalam Kudus dan Cakrawala-Nya yang kuat
Ayat 2 : Memuji Tuhan karena keperkasaan-Nya dan kebesaran-Nya
Ayat 3-5 : Memuji Tuhan dengan iringan alat-alat musik
Ayat 6 : Segala yang bernafas memuji Tuhan

F. Jenis Mazmur 150
Kitab Mazmur pasal 150 ini masuk dalam kumpulan kitab Mazmur bagian jilid V dan pasalpun ini digolongkan atau dikelompokkan dalam Mazmur madah atau Mazmur Pujian (J. Blomendaal, 1999:146; J. D. Douglas, 1995:44, Dianne Bergant, 2002).

G. Tafsiran Kitab Mazmur 150
1. Tafsiran Ayat Per Ayat
Ayat 1 : “Pujilah TUHAN! Pujilah Allah di dalam kudus-Nya! Pujilah Dia di dalam cakrawala-Nya yang kuat!”
Kata kunci : Pujilah TUHAN, Allah, Dia, di dalam kudus-Nya, dan di dalam Cakrawala-Nya.

Ayat ini merupakan bagian pertama dari pasal 150. Kata pujilah Tuhan (Haleluyah) awal untuk menyerukan pujian, atau ajakan pertama kepada umat untuk memuji Tuhan.
Pada ayat yang pertama ini, bentuk sebutan untuk memuji Tuhan ada tiga macam, yakni הַלְלוּיָהּ (Halelu Yah), הַלְלוּ־אֵל (Halelu-El), dan הַלְלוּהוּ (Halelu-Hu).
Yang pertama, sebutan Haleluya berasal dari bahasa Ibrani yang terdiri dari dua kata yaitu halelu (puji) dan Yahweh (TUHAN); yang dapat diartikan ’Pujilah TUHAN’. Kata ini merupakan doksologi dalam kitab Mazmur (R. Soedarmo, 1994:32).
Sebutan Halelu Yah, merupakan doksologi yang dinyanyikan pada hari Sabat, dan menjadi pujian Agung. Ini dianggap merupakan sebutan liturgis yang diduga menjadi sebutan baku untuk memuji Tuhan dalam kebaktian di Bait Allah sesudah pembuangan (J. D. Douglas, 1990:146-150).
Bila kita perhatikan secara seksama, bahwa sebelum di Kel 3, nama YHWH memang dijumpai tetapi baru kepada Musa diterangkan artinya (Kel 6:2). Nama YHWH dianggap merupakan nama diri Allah atau Tuhan, adapun YHWH dialirkan dari kata yang berarti ’adalah’ maksud Tuhan diberikan-Nya sendiri: bahwa Ia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, seperti yang dijabarkan dalam Kel 3:15 (R. Soedarmo, 1994:102-103).
Yang kedua, sebutan Halelu-El, yaitu kata Ibrani yang terdiri dari Halelu (puji) dan –El (Allah). Akhiran –El pada kata Halelu merupakan salah satu nama untuk menyebut Tuhan (bnd R. Soedarmo, 1994:103). Dalam bahasa Inggris, sebutan El dipakai kata God (Allah/dewa), yang asalnya dari bahasa-bahasa Semitis lainnya, dan berarti suatu allah atau dewa dalam pengertian luas. Dalam naskah Ras Syamra, El adalah kata benda nama diri dari “Allah Akbar” orang Kanaan yang anaknya Ba’al. Bentuk jamaknya Elohim = dewa-dewa. Karena sifatnya yang umum ini maka kata El sering dihubungkan dengan kata sifat dan sebutan tertentu, seperti Ul 5:9, “Aku, TUHAN (YHWH), Allah-mu (Elohim), adalah Allah (El) yang yang cemburu.” (J. D. Douglas, 1990:37).
Dan Yang Ketiga, Halelu-Hu yaitu ”Pujilah Dia’, sebutan ini diucapkan untuk memuji Tuhan dengan tidak menyebut nama-Nya.
Ketiga sebutan untuk memuji Tuhan tersebut memiliki perbedaan meskipun kata Halelu pada dasarnya sama artinya pada ketiga sebutan pemujian tersebut. Perbedaan tersebut dapat kita lihat dari maknanya. Halelu-Yah adalah memuji Tuhan dengan menonjolkan singkatan nama Tuhan (Yah=YHWH) yang sebenarnya. Artinya, Tuhan juga memiliki nama khusus sekalipun diucapkan menjadi Adonay (Tuhan). Halelu-El adalah memuji Allah dengan menonjolkan kata El (Allah/dewa). Kata ini dianggap sudah umum di tanah Kanaan untuk memuji dewa. Akan tetapi Halelu-El bukan diarahkan kepada dewa, melainkan kepada Tuhan saja yang dipercaya oleh bangsa Israel. Karena sifatnya umum disebut maka layak diadopsi untuk menyebutkan El. Dari situ dapat kita lihat maknanya, bahwa Allah yang dipercayai oleh Israel itu adalah Allah yang universal, yang artinya siapa saja dapat memuji Tuhan. Sedangkan Halelu-Hu, adalah sebutan memuji Tuhan dengan menggunkan kata ganti –Hu (Dia), artinya Dia yang dipuji adalah Yahweh (TUHAN).
Memuji Tuhan adalah pemenuhan panggilan beribadah. ‘Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya’, ‘ dalam tempat kudus’ dapat diartikan sebagai tempat yang tersembunyi. Dalam teks BHS memang kata tempat tidak dibuat, melainkan hanya kata di dalam kudus-Nya. Namun dapat juga diartikan bahwa Panggilan beribadah ini adalah ajakan untuk memuji Tuhan yang ada di tempat tersembunyi atau di kerajaan-Nya yang jauh. Bait Suci, juga dapat dimaksudkan sebagai (tempat) kudus-Nya. Namun, yang menjadi perbedaan bahwa panggilan beribadah itu dapat dilakukan di bait suci. Panggilan beribadah di bait suci sudah merupakan kebiasan para pemazmur atau orang Lewi (1 Taw 23:27-32, khususnya ayat 30) untuk mengundang para umat Israel untuk memuji Allah. Dan biasanya undangan tersebut diarahkan ke Bait Suci yang ada di Yerusalem (Mzm 63:3; 68:18; 74:3). Mungkin itu yang dimaksud di tempat kudus-Nya. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa tempat kudus itu adalah surga. Namun Menurut kebiasan orang yang mengundang umat untuk beribadah pada waktu biasanya diarahkan ke Bait Suci di Yerusalem yang sudah menjadi tempat pusat ibadah Israel (C. Barth, 1994:76).
“… dalam Cakrawala yang Kuat…”, juga merupakan tempat yang menandakan bahwa Tuhan itu kuat. Istilah itu merupakan gambaran bahwa Allah itu adalah Maha Pencipta. Namun, hal itu bukanlah suatu batas kekuatan Allah, terkhusus pada kalimat dalam cakrawala-Nya yang kuat. Melainkan suatu gambaran yang menandakan bahwa Tuhan itu kuat dan kudus. ’Bereqia uzzo’ adalah merupakan bahwa kekuatan Allah itu ada di cakrawala, dengan kata lain, kekuatan Allah ada di langit. Penjelasan ini bukanlah menyatakan bahwa kekuatan Allah yang sebenarnya terletak di langit, tetapi menekankan bahwa kekuatan Allah di cakrawala atau langit yang tak terbatas yang tak bisa dijangkau oleh alam pikir manusia. hal ini menjelaskan bahwa status Allah dengan manusia adalah berbeda. Artinya manusia sebagai hamba-Nya, dan Tuhanlah yang menjadi Tuan manusia.
Seruan pujian dalam ayat ini adalah merupakan pertanda di mana keberadaan Allah itu. Dengan demikian bahwa makna memuji Tuhan pada ayat ini adalah bahwa memuji Tuhan adalah menyatakan ungkapan syukur kepada Tuhan di saat manusia masih berada di bumi. Bumi merupakan tempat manusia dalam melangsungkan hidupnya adalah ciptaan Allah, maka tempat manusia itu dapat dijadikan sebagai tempat untuk memuji Tuhan. Tempat itupun menjadi kudus bila dijadikan sebagai tempat untuk memuji Tuhan.

Ayat 2 : “Pujilah Dia di dalam keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai kebesaran-Nya yang hebat!”
Kata Kunci: Pujilah Dia, Keperkasaan-Nya dan Kebesaran-Nya yang hebat
Bagian ayat ini adalah bagian kedua dalam psl 150. Seruan pujian di sini menyatakan bahwa Allah itu layak dipuji. Allah layak dipuji adalah karena segala keperkasaan dan kebesaran-Nya yang hebat. Dari keperkasaan dan kebesaran-Nya yang hebat yang menandakan Allah telah melakukan segala keajaiban-keajaiban (Mzm 86:10). Keperkasaan dan kebesaran merupakan sifat-sifat Allah yang menunjukkan bahwa Tuhan itu Maha Ajaib. Di sini pemazmur mencoba memperkenalkan Allah yang layak kita puji.
Keperkasaan dan kebesaran merupakan sifat-sifat dari Allah itu sendiri. Memuliakan Allah dengan adanya tambahan kata-kata sifat tersebut sudah merupakan kebiasan bangsa Israel; besar kemungkinan bahwa untuk mewarisi itu dari tradisi keagamaan bangsa-bangsa penduduk asli Kanaan, yang telah biasa menggunkannya kepada dewa-dewanya masing-masing, bila lepas dari pengalaman sejarah keselamatan itu, jadi sudah pastilah segala puji-pujian Israel menjadi dangkal dan samar-samar, menjadi sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (C. Barth, 1993).
Dalam ayat ini dapat ditemukan bahwa makna memuji Tuhan adalah menyatakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas pertolongan-Nya bagi manusia dan ungkapan memohon kepada Tuhan karena Tuhan dianggap dapat menolong manusia.

Ayat 3-5 : “Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!”
“Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, Pujilah Dia dengan permaninan seruling!”
“Pujilah Dia dengan memperdengarkan ceracap, Pujilah Dia dengan ceracap berdentang!”

Kata kunci : Pujilah Dia, tari-tarian dan alat-alat musik.
Seruan kata ‘Haleluhu’ di sini merupakan seruan yang menyatakan dengan apakah manusia itu memuji Tuhan. Kata-kata kunci dalam ayat-ayat ini adalah memuji Tuhan, dengan alat-alat musik yang disebut di dalamnya yang digunakan untuk memuji Tuhan.
Di sini ada beberapa alat-alat musik yang sudah biasa digunakan dalam ibadah Israel pada masa Perjanjian Lama. Penggunaan alat-alat musik ini merupakan puncak dari segala seruan pada psl 150 ini. Di mana ajakan untuk memuji itu ternyata dapat menggunakan alat-alat musik. Dengan demikian, ungkapan pujian itu tidaklah harus sekedar diungkapkan saja, tetapi dapat juga diekspresikan dengan berbagai alat-alat musik yang ada. Dan tentunya, dimainkan dengan sebaik mungkin agar tidak mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.
Tari-tarian dalam budaya Israel kuno biasanya digunakan pada acara pesta perkawinan saja, namun untuk memuji Tuhan juga bisa digunakan. Dalam ibadah resmi, tari-tarian, namun setelah acara ibadah resmi selesai atau sebelum acara resmi dimulai tari-tarian dapat dipertunjukkan, yang juga bisa digunakan untuk memuji Tuhan.
Alat-alat musik yang dikenal pada waktu itu yang terdiri dari tiga kelompok (dianalisa berdasarkan musik bidang instrumentalia), yaitu Aerophone: kelompok alat musik tiup; Idiophone: kelompok alat musik bertali/berdawai; dan Membranophone: kelompok alat musik pukul atau tabuh (TTP., 1981:470).

Dalam analisa penulis bahwa jenis-jenis alat musik yang pada Mazmur ke-150 ini ada sebanyak tujuh macam dicatatkan dengan dua macam alat musik tiup, tiga macam alat musik tabuh/pukul, dan dua macam alat musik dawai.

Ketiga kelompok musik yang dikenal tersebut adalah:
(a) Kelompok alat musik tiup.
· Sangkakala: שׁוֹפָר (Syofar), alat ini biasa digunakan untuk memberi tanda perayaan pesta Pondok Daun (Mzm 81:4) dan hari-hari pesta yang menyoraki Tuhan sebagai Raja (Mzm 47:6; 98:6). Alat ini terbuat dari tanduk panjang dengan ujung bawah melengkung ke atas. Inilah yang menjadi sangkakala nasional Israel, yang dipakai pada peristiwa-peristiwa militer. Di samping itu juga digunakan untuk memanggil orang-orang agar berkumpul dan beribadah di bait Allah. Dan pada saat ini masih digunakan oleh Israel masa kini.
· Seruling: Berdasarkan teks BHS, seruling disebut עוּגָב (U’gav). Sebutan itu hanya sekali dalam kitab Mazmur. Alat musik ini rupanya berbeda dengan suling (1 Sam 10:5; 1 Raj 1:40; Yes 5:12). Namun tidaklah lebih dari dugaan bahwa bentuk alat itu tentulah menyerupai suling.

(b) Kelompok alat musik pukul/tabuh.
· Rebana: תׁף (tof), dalam LXX (Septuaginta) disebut tumpanon. Alat ini masih sejenis dengan tambur. Cara pemakaiannya: tangan yang satu untuk memegang dan tangan yang satu lagi untuk memukul. Menurut kebiasaan orang Israel, rebana biasanya dipukul oleh perempuan (Mzm 68:26-27; Kel 15:20; 1 Sam 10:5). Dalam kitab Tawarikh penggunaan rebana hanya sekali disebut (1 Taw 13:8 = 2 Sam 6:5). Apakah ini ada hubungannya dengan dengan kurangnya penggunaannya dalam ibadah di bait Suci? Sulit untuk dipastikan. Namun, walaupun demikian yang jelas rebana pasti selalu digunakan untuk mengiringi ibadah pada pesta Israel (bnd 2 Sam 6:5, 14). Memukul rebana tidak terlepas juga dengan menari (bahkan bernyanyi). Itu dilakukan secara bersama-bersama (Mzm 68:26-27; Kel 15:20-21; 1 Sam 18:6-7).
· Ceracap: צִלְצְלֵי (tsiltseley), banyak digunakan dalam ibadat (bnd 1 Taw 16:5; 2 Taw: 5:12; Neh 12:27). Namun dalam Kitab Mazmur hanya pada pasal ini yang disebut. Di lihat dari istilah berdenting dan berdentang (terjemahan LAI), ceracap ini sepertinya terdiri dari dua bentuk pada zaman kuno. Satu, terdiri dari dua belahan seperti belahan tempurung. Yang kedua, kedua juga terdiri dari dua berbentuk cawan. Kedua Ceracap tersebut Cara penggunaan alat musik ini memiliki sedikit perbedaan dengan alat musik lain yang dipukul dengan tangan atau pakai tongkat. Sedangkan alat ini, salah satu dari belahan tersebut dipukulkan ke belahan yang lainnya, dan seterusnya dilakukan secara bergantian. Kemungkinan, ceracap yang pertamalah yang mengeluarkan suara yang berdenting (suara yang lunak), dan ceracap yang kedua mengeluarkan suara yang berdentang (suara yang lebih nyaring dan kuat) (J.D. Douglas, 1995:112). Baik dalam segi bentuk dan cara pemakaiannya, alat musik ini ada kemiripannya dengan simbal. Dalam teks Contemporary English Version (CEV), King James English Version (KJEV), dan beberapa Alkitab yang menggunakan berbagai versi bahasa Inggris kata Ceracap diterjemahkan sebagai ‘Cymbal’, dalam terjemahan umum bahasa Indonesia disebut simbal, ceracap, dan canang. Ceracap disebutkan dalam terjemahan LAI, versi Terjemahan Baru (T.B.) tahun 1974 ada sebanyak 16 kali, sedangkan dalam terjemahan LAI versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS.) tahun 1985 hanya satu kali. Alat musik ini hanya diberitahukan dalam ayat ini dengan dua ceracap yang memiliki sifat berbeda. Terjemahan LAI versi BIS. kebanyakan mengartikan tseltselim sebagai gong. Belum dapat diketahui apa sebenarnya perbedaan ceracap dengan canang, namun dalam terjemahan Alkitab versi CEV dan KJEV menyamakannya dengan ’Cymbal’. Kata canang hanya ditemukan satu kali dalam Alkitab (1 Kor 13:1), dan lainnya disebutkan dalam bentuk kalimat, dan itu pun hanya satu kali disebutkan: Mat 6:2, “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, …”.

(c) Kelompok alat musik berdawai/bertali.
· Kecapi: כִנּוֹר (kinnor). Golongan alat musik ini adalah yang paling sering disebut dalam Alkitab dan juga pertama sekali disebut dalam Alkitab (Kej 4:21).
· Gambus: נֵבֶל (nevel). Menurut keterangan Alkitab alat ini digunakan dengan cara dipetik dengan jari namun alat ini sebenarnya umumnya digunakan dengan cara digesek. Alat musik berdawai ini, baik kecapi maupun gambus sudah umum disebut dalam Alkitab (bnd Mzm 92:4).

Seruan untuk memuji Tuhan, pada zaman Alkitab ketiga kelompok alat musik tersebutlah digunakan untuk memuji dalam ibadah di Bait Suci. Dapat dimaksudkan (tidak tertutup kemungkinan pada zaman sekarang) bahwa ketiga kelompok alat-alat musik yang dikenal pada masa kini juga memiliki posisi yang sama dengan apa yang telah digunakan dalam ibadah Israel pada zaman Perjanjian Lama. Hanya saja perbedaannya terletak pada alat-alat yang digunakan. Artinya, mana yang dikenal pada masa itu, itulah yang dipakai, dan mana yang dikenal pada masa sekarang itu juga yang dipakai.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seruan yang menggunakan alat musik untuk memuji tidaklah sekedar dimainkan begitu saja. Melainkan ada variasi-variasi tertentu untuk memperindah nada-nada/irama-irama yang dikeluarkan oleh alat musik tersebut. Seperti halnya dengan menabuh rebana dapat sekaligus mengiringi tari-tarian di samping mengiringi nyanyian pujian. Hal yang lainnya, dinamika suara juga diperlukan, apakah suaranya lunak atau nyaring dan kuat.
Dengan demikian, orang Israel (yang telah dipanggil oleh Lewi) beribadah ini karena Allah yang mereka percaya itulah Tuhan Yang Maha Perkasa, ajaib, dan lain sebagainya.
Permaninan alat musik tentunya bukanlah hal paksaan digunakan dalam ibadah, tetapi setidaknya alat musik boleh dipakai dalam ibadah resmi. Wajar saja orang-orang Israel pada zaman PL menggunakan alat-alat musik memuji Tuhan dengan penuh kemewahan, sebab pada waktu itu memang bangsa itu adalah bangsa yang kaya-raya dan makmur. Dari situ dapat diketahui bahwa tidaklah ada patokan harus atau tidak untuk memakai alat musik dalam acara ibadah. Namun alangkah indahnya bila alat-alat musik dipakai untuk memuji Tuhan, dengan penuh hikmat dan puji syukur kepada Tuhan, baik dalam acara resmi atau acara biasa.
Dengan demikian, makna memuji Tuhan dengan menggunakan alat-alat musik adalah menyatakan ungkapan syukur melalui suara dari alat musik yang dimainkan oleh manusia. Artinya memuji Tuhan dapat diungkapan dalam ekspresi yang ada, salah satunya yaitu bernyanyi, dan bermain musik.

Ayat 6 : “Seluruh yang bernafas untuk memuji-TUHAN! Pujilah-TUHAN!”

Ayat inilah merupakan bagian terakhir dalam psl 150. Seruan ini menyatakan siapa subjek yang memuji Tuhan, atau dengan kata lain siapakah yang harus memuji Tuhan? Dalam ayat ini dituliskan, ”(Biarlah) seluruh yang bernafas (khol hannesyama: הַנְּשָׁמָה כֹּל ) memuji Tuhan…” Kalimat ini menyatakan bahwa seluruh yang bernafas adalah subjek yang memuji Tuhan. Dan tentunya yang dimaksud ‘seluruh/segala yang bernafas’ adalah manusia, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan bisa memuji dengan cara hidup makhluk tersebut, sebab hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan merupakan ciptaan Tuhan. Namun yang paling diutamakan adalah manusia, karena manusia adalah makhluk yang paling khusus diciptakan di antara ciptaan-ciptaan-Nya yang lain. Maka manusia sebagai umat Allah, dengan segala akal dan pikirannya harus memuji Tuhan. ‘Haleluya’, merupakan seruan penutup pada ayat ini (juga secara keseluruhan pada pasal 150). Ini merupakan harapan si pemazmur agar segala yang bernafas ikut memuji Tuhan. Artinya, memuji Tuhan adalah bagian dari hidup manusia. Dengan demikian memuji Tuhan adalah kewajiban manusia.

2. Tafsiran Keseluruhan
Secara keseluruhan bahwa kitab Mazmur pasal 150 ini tidaklah dapat dibagi menjadi beberapa bait. Melainkan hanya satu bait saja, karena ayat-ayat pasal tersebut saling berhubungan, selain itu pasal ini banyak seruan kata pujilah kepada Tuhan. Namun dari segi isi, pasal ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni: ayat 1: berbicara tentang di mana Allah dipuji, ayat 2: mengapa Allah dipuji, ayat 3-5: dengan apa (bagaimana) Allah dipuji, dan ayat 6: siapa yang harus memuji (Marie C.B., 2003:522-523).
Kitab ini merupakan suatu seruan akbar untuk memuji Tuhan. Dalam rentetan dan bagian ayat per ayat, selalu ada seruan kata Puji (+lah) Dia (Tuhan).
Pasal dari kitab Zabur ini banyak menyerukan kata Puji yang diarahkan kepada Tuhan. Seruan pujian itu ada sebanyak dua belas (12) kali disebutkan, yakni seruan untuk Halelu-Yah (Pujilah TUHAN) ada sebanyak dua kali yaitu pada ayat 1 dan 6, seruan Halelu-El (Pujilah Allah) hanya satu kali disebutkan pada pasal ini yaitu pada ayat 2, dan seruan Halelu-Hu (Pujilah Dia) ada sebanyak sembilan kali disebutkan, yaitu mulai dari ayat 2 sampai ayat 5. Kesemua seruan pujian tersebut berakar dari kata hll (halal: puji).
Sebenarnya, sebutan imbuhan ”-El” itu sudah lama dikenal pada zaman para Patruakh atau bapa-bapa leluhru orang Israel (Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf), sebab itu dikisahkan pada perjumpaan-perjumpaan para leluhur Israel (Andar Ismail, 2000:2).
Dari seruan itulah pemazmur berusaha untuk mengajak pembaca untuk memuji Tuhan yang telah diperkenalkannya dengan menyebutkan sifat-sifat dari Allah tersebut. Artinya, pemazmur ingin memberitahukan bahaw objek yang memiliki sifat-sifat yang agung itu adalah merupakan Tuhan yang layak kita puji. Oleh karena itulah kita sebgai manusia dapat memuji Dia dengan berbagai alat musik.
Ajakan untuk memuji Tuhan dengan memainkan berbagai alat-alat musik merupakan puncak klimaks dari pasal kitab ini
Dari seluruh kumpulan Mazmur, pasal yang terakhir inilah sebagai doksologi agung Kitab Mazmur, pemazmur ini ingin menyampaikan pesan bahwa memuji Tuhan merupakan tujuan dari seluruh ciptaan dan harus menjadi pernafasannya. Penggunaan alat musik dalam ibadah bisa juga mengundang bahaya, apabila tidak digunakan pada jalurnya. Untuk itulah alat musik (termasuk gerak/tari-tarian) disenadakan dengan tujuan panggilannya. Persembahan nada hidup ini kemudian haruslah dipersatukan dengan persembahan nada dalam ibadat. Hidup menjadi musik untuk kemuliaan Allah (Marie C.B., 2003:523-525).
Makna memuji Tuhan dari keseluruhan pasal yang ke-150 ini adalah merupakan bagian dari panggilan beribadah yang wajib dilakukan oleh setiap umat manusia, sebab ibadah merupakan respon manusia terhadap Allah yang memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan yang ada di jagat raya ini. Dari situ dinyatakan bahwa Allah itu adalah Tuhan yang Maha Ajaib. Hal itulah yang membuat manusia harus memuji Tuhan baik di tempat yang dianggap kudus (Bait Suci) atau di mana pun manusia itu beribadah. Memuji Tuhan tidaklah hanya dengan sebatas ucapan di mulut saja, tetapi dapat juga dilakukan dengan berbagai kemampuan atau talenta yang ada seperti bernyanyi dengan iriangan alat musik atau dengan tari-tarian. Dan tentunya semua itu dimainkan dengan seisi hati dan tanpa paksaan. Di samping itu memuji Tuhan dapat dimaknai dengan melalukan apa yang dikehendaki Allah yaitu berbuat yang benar di mata Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, atau tidak melanggar hukum Allah.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa si pemazmur ingin menyampaikan makna dari memuji Tuhan dilihat isi bagian pasal ini adalah sebagai berikut:
a. Ayat 1, menyampaikan makna bahwa memuji Tuhan sama dengan meresponi segala kebesaran Allah, termasuk perbuatan-Nya yang dianggap ajaib.
b. Ayat 2, menyampaikan makna bahwa memuji Tuhan dapat dilakukan pada tempat di mana manusia itu hidup, atau dengan kata lain di mana dan kapan saja manusia dapat memuji Tuhan. Artinya dalam kehidupan manusia sehari-hari manusia dapat memuji Tuhan.
c. Ayat 3-5, menyampikan makna bahwa memuji Tuhan dapat diungkapkan dengan talenta yang dimiliki manusia, seperti memakai alat musik atau dapat juga sambil menari.
d. Ayat 6, menyampaikan makna bahwa memuji Tuhan itu adalah suatu ibadah yang wajib dilakukan oleh segala makhluk ciptaan-Nya, dan paling diutamakan adalah manusia.

Dengan demikian, memuji Tuhan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh segala makhluk ciptaan-Nya untuk meresponi segala perbuatan yang Agung dari Tuhan dengan cara hidup masing-masing. Secara khusus, pemazmur menyampaikan pesan kepada pembaca, bahwa sebagai manusia haruslah selalu memuji Tuhan kapan dan di mana saja dengan segenap akal dan pikiran manusia.


H. Scopus
“Memahami makna Memuji Tuhan dalam panggilan beribadah. ”

BAB IV

REFLEKSI TEOLOGIS

A. Mengenal Tuhan Yang Kita Puji

Manusia mengenal Allah hanyalah sejauh Allah memperkenalkan diri kepada manusia itu sendiri. Pernyataan-pernyataan diri Allah saja, yaitu penciptaan, pemeliharaan, penyertaan dan tindakan-tindakan keselamatan yang dilakukan-Nya tentulah hanya menggambarkan sebahagian keberadaan Allah yang sebernarnya. Sebab, pengenalan manusia tentang Allah sangat terbatas, jauh dari keberadaan Allah yang sebenarnya (Darwin Lumbantobing, 2001:4).

Mengenal Tuhan adalah sulit untuk dijelaskan tanpa ada pembuktian bahwa Tuhan adalah Maha Ajaib demikian juga dengan eksistensi Tuhan. Namun, meskipun demikian pembuktian itu hanya dapat kita lihat dalam Alkitab, yang dikemudian harinya ditafsirkan beberapa kalangan teologi yang menyatakan bahwa Tuhan itu adalah Allah yang Maha Kuasa. Tidak hanya di situ saja, melalui sejarah penginjilan telah diberitakan bahwa Allah yang mengutus Yesus Kristus itu adalah Allah yang patut dipuji karena hanya Dialah Tuhan satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia.

63

Seperti halnya dalam kitab Mazmur 150:2, dikatakan bahwa Allah yang dipuji itu adalah Allah yang memiliki keperkasaan dan kebesaran. Dari situ tampak ada usaha untuk memberitahukan kepada manusia bahwa Allah yang dipuji itu bukanlah sekedar perkasa tetapi juga memiliki kebesaran yang hebat yang menandakan Allah itu melebihi dari segalanya.

Para penulis Alkitab, bahkan para penginjil dan tokoh teolog sudah berusaha untuk mencoba memberi pengenalan tentang Tuhan kepada manusia, namun itu belum bisa membuat kita mengenal Allah lebih dalam.

Kesalahan manusia yang terbesar adalah ketika kita berusaha mengenal Allah dengan memperlakukan Allah sebagai objek penelitian dan pengetahuan. Allah tidak boleh diperlakukan demikian. Kesalahan para teolog adalah ketika ia menempatkan dirinya sama seperti seorang pathology atau ahli bedah, yang meneliti objek yang diteliti dengan membedah dan memilah-milah objek tersebut (Darwin Lumbantobing, 2001:5).

Memuji adalah merupakan penghargaan yang tulus akan sesuatu kebaikan atau kelebihan yang dianggap lebih unggul dari yang lainnya (bnd KLBI, 2000), seperti halnya kita memuji Tuhan yang kita anggap memeliki kelebihan dari segalanya. Namun hal itu tidaklah berarti bila pujian itu tidak berdasarkan iman kita. Kita tahu Allah itu Maha Agung, namun hanya sebatas pengetahuan yang kita dapat dari sumber-sumber yang ada saja, seperti dari Alkitab atau dari khotbah. Memuji Tuhan tanpa iman itu sama saja dengan mengenal Allah sebatas pengetahuan kita saja tanpa memperdulikan iman, sehingga ibadah yang kita lakukan itu bukan lagi ibadah yang sesungguhnya melainkan ibadah yang formal saja.

Memang dunia ini sangat sempit dan terbatas dibandingkan dengan keberadaan Allah. Pengetahuan dan pengenalan manusia tentang Allah juga sangat terbatas. Untuk itulah kita, sebagai manusia harus berbicara kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya tentang siapa Dia dan mengamini apa yang diperbuat-Nya. Itulah satu-satunya jalan untuk lebih memahami, mengenal, dan beriman kepada-Nya. Allah akan menjawab segala pertanyaan manusia di dalam iman kepada-Nya, baik tentang keberadaan-Nya maupun segala seuatu di luar diri-Nya, yaitu ciptaan-Nya (Darwin Lumbantobing, 2001:4-5).

Jadi, untuk mengenal Allah lebih dalam lagi kita hanya dapat mewujudkannya melalui perbuatan kita sehari-hari dan Allah akan menyatakan diri-Nya melalui berkat-Nya kepada kita. Namun, hal itu bukanlah hanya didorong oleh keingintahuan belaka saja tetapi dengan hati yang betul-betul ingin berbuat yang benar di hadapan-Nya.

Dengan demikian kita yang telah mengenal Allah dengan segenap iman adalah manusia yang memuji Tuhan dengan segenap hati. Artinya, kita mengenal Tuhan dengan iman berarti kita juga telah memuji Tuhan dengan penuh keyakinan.

B. Makna Memuji Tuhan Dalam Kehidupan Masa Kini

Dalam kehidupan masa kini, sering kita hanya memahami bahwa makna dari pada memuji Tuhan itu hanya sekedar memuji dan mengucapkan syukur saja kepada Tuhan, tanpa ada rasa keyakinan dari hati kita sebenarnya. Tidaklah mungkin itu dipahami bila tidak ada yang mempengaruhi.

Kita hanya memahami bahwa memuji Tuhan cukup dilakukan di gereja saja, dan seterusnya tidak ada kelanjutannya, hanya formalitas saja dilakukan.

Hal itu dipengaruhi oleh berbagai macam perkembangan yang ada pada masa kini yang terus-menerus berubah.

Mazmur 150 mencoba memberi suatu ajakan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan Allah untuk memuji Allah, dengan kemampuan yang ada. Maksudnya, ajakan itu memberi pola pikir baru kepada kita agar memuji Tuhan tidak hanya sekedar memuji saja tetapi segala daya dan kemampuan yang ada dalam diri kita dapat kita gunakan memuji Tuhan.

Memuji bukanlah sekedar dimaknai hanya diucapkan dengan mulut saja akan tetapi ada keyakinan terhadap objek yang kita puji itu. Artinya, bila memang objek yang kita puji itu adalah Tuhan maka dengan penuh keyakinan pulalah kita memuji-Nya.

Memuji dapat diartikan sebagai penghargaan yang tulus akan sesuatu kebaikan, atau suatu ketaktjuban hati terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kelebihan atau keunggulan (KLBI, 2000:258; Poerwadarminta, 1984:772).

Berarti memuji Tuhan adalah suatu penghargaan yang tulus kepada Tuhan, karena dianggap dan diyakini bahwa Tuhan yang dipercayai itu memiliki keunggulan atau kelebihan.

Memuji Tuhan merupakan pernyataan untuk menyapaikan pujian kepada Tuhan, yaitu pujian yang merupakan suatu bagian terkemuka dari beberapa respon manusia dan pendekatan kepada Allah melalui ibadah. Allah adalah intisari dengan objek dari pujian manusia (Ul 10:1) dan dengan cara demikian seterusnya keunggulan dan keunikan Allah dalam diri keilahian dan aktivitas-Nya ditempatkan atau diatur sedemikian rupa (TTP, 1981:856).

Memuji Tuhan adalah bagian dari ibadah yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Sebab memuji Tuhan bukanlah sebatas ibadah yang dilakukan hanya di tempat kudus saja, namun memuji Tuhan itu diimplisitkan dalam tingkah dan laku manusia itu dalam kehidupannya sehari-hari.

Manusia bukanlah sekedar memuji Tuhan saja sebab memuji merupakan bagian dari ibadah yang wajib dilakukan oleh manusia. Manusia beribadah berarti manusia mematuhi segala perintah-Nya, dan setia selalu kepada Allah, seperti yang telah dituliskan dalam Alkitab, antara lain:

a). Im 18:30, “Dengan demikian kamu harus tetap berpegang pada kewajibanmu terhadap Aku, dan jangan kamu melakukan sesuatu dari kebiasaan yang keji itu, yang dilakukan sebelum kamu, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu.”

b). Ul 11:1, “Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.”

c). 1 Raj 2:3, “Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,…”

d). Pkh 12:13, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

e). 2 Tes 1:3a, Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah…”

Memuji Tuhan memiliki makna yang sangat luas. Mengucapkan rasa terima kasih, syukur kepada Tuhan adalah merupakan makna dari memuji Tuhan, tetapi makna yang sebenarnya bagaimana kita sebagai manusia mewujudkan ungkapan rasa itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Bila kita mengucapkan rasa terima kasih, syukur kepada maka kita juga harus ikut berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Artinya, kita juga ikut ambil bagian dalam melalukan apa yang diperintahkan Tuhan sebagaimana kita adalah ciptaan-Nya.

Maka dengan demikian, bahwa makna memuji Tuhan adalah pemenuhan ibadah manusia dengan segenap hati untuk meresponi berkat dan perintah Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.

C. Memuji Tuhan di Tempat Kudus

Tempat untuk memuji Tuhan biasanya dilakukan di tempat yang dianggap kudus. Artinya, tempat itu dianggap bernilai religius dan sakral.

Pada zaman Musa, kemah suci merupakan tempat sakral dan suci. Di situlah Musa menyembah Allah dengan memberikan korban sembelihan. Pada waktu itu belum ada Bait Suci. Barulah setelah Salomo menjadi raja, tempat untuk menguduskan Allah dibangun, dan bukan lagi sekedar tempat untuk mengorbankan korban sembelihan tetapi juga menjadi pusat peribadatan warga Israel. Di sanalah orang-orang Isarel melakukan ibadah, baik itu perayaan keagamaan maupun ibadah biasa.

Selain Bait Suci, tempat ibadah lainnya yaitu Sinagoge. Tempat ini tidak hanya satu dibangun, melainkan telah dibangun beberapa Sinagoge di daerah Israel. Tempat ini sebenarnya lebih banyak digunakan sebagai tempat untuk menelaah Hukum Taurat, atau mengajarkan Hukum Taurat, namun ibadah juga dilakukan di sana. Namun dalam Alkitab, Sinagoge merupakan suatu kumpulan sekelompok orang dari suatu tempat untuk beribadah atau gerakan bersama (Luk 12:11) (J.D. Douglas, 2001:409+410).

Pada masa kini gereja merupakan tempat kudus jemaat Kristen untuk memuji Tuhan. Di sanalah kegiatan ibadah biasa dan hari-hari besar gerejawi dilakukan.

Gereja ataupun Bait suci dibangun untuk digunakan. Akan tetapi tempat kudus itu tidaklah bermakna bila kosong. Melainkan, justru gereja itu lebih berfungsi ketika gereja diisi jemaat. Kegitaan ibadah akan berlangsung, yang sering diawali dengan lonceng yang memanggil mereka keluar dari dunia (James F. White, 2002:101).

Namun, memuji Tuhan sebenarnya tidaklah dibatasi oleh ruang dan waktu (bnd A.A. Sitompul, 2000:249). Implisifnya, pada saat kapan kita berada kita dapat memuji Tuhan baik di rumah maupun di tempat lain. Tempat itu akan menjadi kudus bila kita gunakan sebagai tempat untuk memuji Tuhan. Tidak hanya di dalam gereja saja. Sebab di samping gereja diartikan sebagai persekutuan orang-orang yang dipanggil dari dunia gelap menuju terang dunia, gereja dalam arti bangunan juga merupakan tempat kita untuk berkumpul bersama untuk memuji Tuhan. Pada tempat yang lain kita memuji Tuhan, sebab diri kita ini juga adalah gereja, tubuh Kristus (1 Kor 12:27; Ef 4:12).

D. Memuji Tuhan dengan Nyanyian dan Alat Musik

Setiap manusia tentu memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan juga memiliki daya imajinasi dalam diri manusia. Salah satu dari kemampuan manusia itu adalah bernyanyi dan memainkan alat musik.

Bernyanyi merupakan hal yang sudah umum dilakukan oleh setiap manusia sekalipun suara yang dimiliki tidak begitu merdu atau indah didengar. Biasanya manusia sering mengekspresikan perasaanya dalam bentuk nyanyian, baik gembira ataupun sedih.

Bilamana kita perhatikan secara seksama bahwa ibadah Kristen tidaklah terlepas dari nyanyian, dan begitu juga dengan alat-alat musik. Bahkan orang-orang pada zaman Alkitab itu sendiri telah membuktikan betapa pentingnya musik itu digunakan dalam ibadah.

Pada zaman Perjanjian Lama, nyanyian dan alat-alat musik untuk memuji Tuhan telah menjadi tradisi keagamaan bagi bangsa Israel. Jemaat pada zaman ini selalu diwarnai denganm nyanyian penyembahan untuk memuji Tuhan. Sejak keturunan Kain kita mengakui bahwa Yubal adalah bapa semua yang memainkan kecapi dan suling. Di sini kita lihat msuik sebagai unsur kebudayaan sejak semula. Manusia berhasil melahirkan alat-alat musik untuk mengungkapkan isi hati dan perasaannya. Mereka mulai mengenal apa itu suara yang indah, yang mengena dalam menyamapaikan sesuatu kepada yang ada di luarnya (A.A. Sitompul, 2000:246). Pada saat itu (stelah masa pembuangan) terdapat adanya musik keagamaan, atau istilah lain disebut Orkes Bait Suci (J. Verkuyl, 1992:129). Bahkan sampai sekarang pendidikan kader pemusik sangat dipentingkan dalam agama Yahudi (T.H. Sumartana, 1999:303-304).

Pada zaman Perjanjian Baru, pada permulaan Pekabaran Injil (PI) ungkapan untuk memuji Tuhan dengan musik masih tetap juga digunakan. Seperti halnya, ketika Paulus menginjil, ia berpesan kepada jemaat di Efesus dan Kolose (Ef 5:19; Kol 3:16) agar mengajar dan menegur satu kepada yang lain dengan mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani, serta bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati (Clarence H., 1997:13).

Dan memang sejak awal, gereja sudah mempunyai tradisi bernyanyi. Dalam Injil Matius pada pasal 26:30 tertulis, “Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun” (Andar Ismail, 2004:65).

Demikian juga dengan Gereja masa kini, seperti Gereja Protestan yang beraliran Lutheran, Calvinis dan Kharismatik. Pada zaman reformasi, Dr. Martin Luther tidak hanya mereformasi teologia yang dikembangkan oleh ajaran Katolik, tetapi ia juga mewariskan pujian yang berarti bagi ibadah Protestan dan menghargai tradisi lama, dan ingin supaya kekayaan diisi dengan musik polyphony untuk ibadah. Sama halnya dengan Calvinis yang menyakini bahwa musi bersumber dari Tuhan, sehingga perlu digunakan untuk memuji Tuhan (Rhoderick, 2002:100+104).

Yang lebih eksprektif lagi adalah aliran Kharismatik. Para jemaat yang menganut aliran ini, memuji Tuhan dengan nyanyian selalu dilengkapi dengan seperangkat alat musik dan sound system (Jan S. Aritonang, 2000:194+195).

Mazmur 150 merupakan salah satu contoh dekat yang mengimplimentasikan bahwa ibadah Kristen tidak terlepas dari pujian yang diwarnai dengan yanyian dan alat-alat musik (bnd Mzm 145:1b) (ICW, ed 066:2000).

Musik adalah merupakan suatu pengungkapan gagasan yang melalui bunyi yang memiliki tiga unsur dasar yaitu melodi, irama dan harmoni, dengan unsur pendukung berupa bentuk gagasan, sifat, dan warna bunyi (M. Soeharto, 1999). Berarti, pujian itu dapat juga diekspresikan dengan nyanyian dan alat musik.

Bernyanyi adalah mengeluarkan perasaan kita tentang Tuhan dan serempak memasukkan kembali perasaan itu ke jiwa kita. Nyanyian yang ada pada gereja masa kini terdiri dari ragam yang berbeda dengan hakikatnya dan fungsinya. Salah satu ragamnya adalah bersifat kontemplatif dan meditative. (Andar Ismail, 2004:65).

Nyanyian merupakan bagian dari musik yang sudah menjadi bagian dari jiwa manusia sehingga ada pepatah mengatakan “No times without singing/music”, yaitu “Tiada hari tanpa nyanyian/musik”. Istilah inilah yang melatarbelakangi bahwa manusia tidak terlepas dari musik. Oleh karena itu musik digunakan dalam memuji Tuhan.

Musik dapat membantu ibadah dengan alasan adalah bahwa musik merupakan medium yang lebih ekspresif ketimbang ucapan biasa. Musik memungkinakan kita mengekspresikan intensitas perasaan melalui kepelbagaian dalam kecepatan, pola titik nada, keras lembut, melodi dan ritme. Musik dapat, dan sering, menyampaikan intensitas lebih besar dalam perasaan ketimbang kalau diekspresikan tanpa musik (James F. White, 2002:103).

Dalam kehidupan ibadah gereja masa kini kebanyakan mendominasi musik di bidang vokal ketimbang menggunakan alat-alat musik. Sebab musik di bidang vokal lebih mudah dipelajari dari pada mempelajari alat-alat musik. Namun, di dalam Alkitab sendiri diinformasikan bahwa orang-orang pada zaman itu telah menjadi tradisi untuk memuji Tuhan dengan bernyanyi dengan adanya iringan alat-alat musik pada masa itu.

Bila dianalisa lebih dalam lagi bahwa alat-alat musik juga yang dipakai untuk memuji pada masa itu, tentu ada makna tersendiri sehingga alat-alat musik itu dipakai untuk mengiringi nyanyian pujian.

Pada kitab Mazmur 150, ada seruan untuk memuji Tuhan dengan menggunakan berbagai alat musik. Bila dibandingkan dengan alat musik sekarang tidaklah sama, bahkan lebih berbeda lagi. Sebab alat musik yang disebutkan dalam pasal 150 itu dapat dikategorikan alat-alat musik tradisional. Namun bukanlah itu yang sebenarnya yang harus kita pahami, melainkan makna dari penggunaan alat musik itu dalam memuji Tuhan.

Keindahan musik memang merupakan nilai penting dalam ibadah, akan tetapi bukanlah maksud tujuan ibadah atau tujuan musik, melainkan musik dapat menjadi wahana yang memuaskan bagi beberapa orang-orang untuk mengekspresikan ibadah mereka, artinya musik dapat memberi semangat bagi jemaat yang hadir pada saat itu (James F. White, 2002:103).

Keindahan atau kemerduan suara baik dari nyanyian maupun dari alat musik bukanlah hal yang paling utama dalam memuji Tuhan (Mzm 26:7), tetapi peranan hati, akal budi dan seluruh kehidupan kita ini menjadi kunci atau yang menentukan apakah nilai pujian yang diekspresikan dengan musik kita itu asli dan bersih (murni). Keindahan dan kemerduan memang diperlukan dalam ibadah, tetapi perlu kita pahami bahwa pujian itu akan lebih bermakna lagi bila diikutkan dengan hati (Ams 25:20), dengan akal budi (1 Kor 14:15), atau segenap jiwa kita (A.A. Sitompul, 2000:249).

Dengan demikian, fungsi musik adalah mempersembahkan sesuatu yang kita anggap indah, tidak peduli betapa tidak lengkapnya peralatan musik kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa bernyanyi sendiri melibatkan partisipasi lebih aktif dari pada mendengarkan orang lain bernyanyi, tidak perduli betapa unggul prestasi musik orang lain itu (James F. White, 2002:103).

Dalam perkembangan alat-alat musik pada masa kini yang terbagi dalam tiga kelompok (alat musik tiup, pukul, bertali/berdawai) sudah semakin pesat bahkan telah dilengkapi dengan berbagai sound system. Bahkan dalam ibadah kebaktianpun telah diikutkan untuk mengiringi pujian, seperti yang telah dilakukan oleh aliran Kharismatik. Kesemuanya itu dapat dipakai untuk memuji Tuhan adalah tidaklah salah digunakan sepanjang fungsinya tidak disalahgunakan untuk memuji Tuhan atau makna dari pujian tidak hilang. Semuanya itu indah digunakan untuk memuji Tuhan asalkan dengan segenap hati untuk memuji Tuhan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna pemakaian musik dan alat-alatnya dalam memuji Tuhan adalah sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan kita kepada Tuhan, baik itu perasaan syukur kita atas rahmat-Nya yang diberikan kepada kita maupun ungkapan perasaan terima kasih kita terhadap pengampunan yang telah diberikan-Nya.

Oleh karena itulah, betapa pentingnya gereja memberi suatu kesempatan untuk mengajarkan dan memberikan pendidikan musik gereja kepada jemaat, agar jemaat tidak hanya bernyanyi saja tetapi dapat mengetahui apa sebenarnya makna dari musik rohani tersebut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kitab Mazmur adalah Kitab Zabur yang terdiri dari beberapa kumpulan nyanyian-nyanyian rohani bangsa Yahudi, yang samapai sekarang masih digunakan dalam ibadah, dan juga dipakai oleh gereja masa kini.

2. Kitab ini ditulis dalam tiga masa yaitu, pada masa pra-pembuangan, masa pembuangan, dan masa pasca-pembuangan.

3. Kitab Mazmur pasal 150 ditulis oleh para Pemazmur yang tidak dikenal, yang ditulis ditulis kira-kira tahun 1000-500 SM, yaitu pada masa post-exilis atau setelah masa pembuangan.

4. Kitab Mazmur pasal 150 adalah merupakan salah satu dari kumpulan Mazmur Pujian atau Mazmur Madah.

5. Hal-hal yang dibahas dalam kitab Mazmur 150 adalah ajakan untuk memuji Tuhan Yang Maha Kuat dan Perkasa, agar manusia memuji Tuhan pada tempat yang kudus, dan memuji-Nya dengan ekspresi musik dan alat-alatnya.

6. Scopus dari pasal 150 adalah “Memahami makna Memuji Tuhan dalam panggilan beribadah. ”

7.

76

Makna memuji Tuhan menurut eksegetis Mazmur 150 adalah pemenuhan ibadah manusia sebagai ciptaan Allah untuk memuji Tuhan di tempat kudus dengan segala kemampuan yang ada, seperti bernyanyi dan melakukan yang dikehendaki oleh Allah.

8. Makna memuji Tuhan adalah merupakan pemenuhan panggilan beribadah yang wajib dilakukan manusia untuk meresponi kehebatan, perintah dan keagungan Allah, yaitu pemenuhan ibadah manusia yang dilakukan menusia dengan segenap hati untuk meresponi berkat dan perintah Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.

9. Memuji Tuhan dapat dimaknai bahwa kita sebagai manusia juga telah mengenal Allah dengan iman kita.

10. Memuji Tuhan tidaklah dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya kapan dan di mana kita berada kita juga dapat memuji Tuhan sebab tempat yang kita gunakan itu akan menjadi kudus bila kita jadikan untuk memuji Tuhan yaitu dengan melalukan apa yang baik di mata Tuhan.

11. Memuji Tuhan dapat dilakukan dengan kemampuan yang ada dalam diri kita, antara lain dengan talenta yang kita miliki digunakan untuk memuji Tuhan seperti bernyanyi memuji Tuhan dengan iringan alat-alat musik, yang tentunya didorong oleh hati yang mendalam.

12. Memuji Tuhan dengan menggunakan alat-alat musik yang ada dapat digunakan untuk mengekspresikan pujian kepada Allah dengan.

B. Saran

1. Sebagai warga gereja tetaplah selalu memuji Tuhan kapan dan di mana pun berada, sebab memuji Tuhan adalah bagian yang tidak terlepas dari hidup manusia sehari-harinya.

2. Sebagai warga gereja, kita yang memiliki kemampuan dalam bidang musik kiranya dapat ambil bagian dalam kegiatan ibadah untuk memuji Tuhan, contohnya: membantu para pelayan gereja dalam membina kelompok-kelompok paduan suara, menghidupkan suasana dengan memainkan alat musik yang ada (semisal Organ)

3. Gereja harus bisa berperan dalam menghidupkan suasana ibadah agar jemaat tetap aktif dalam mengikutinya.

4. Gereja tidaklah boleh menutup mata terhadap apa yang dihadapi oleh jemaat, kiranya gereja bisa mendekatkan diri kepada jemaat dengan cara memakai jemaat yang berkompeten di bidangnya, contohnya: jemaat yang memiliki jiwa musik dapat digunakan untuk membina kelompok-kelompok paduan suara, menyemarakkan ibadah dan menfasilitasi ibadah jemaat dengan berbagai alat musik.


D A F T A R P U S T A K A

1. Alkitab

Lembaga Alkitab Indonesia, 2000, “Akitab T.B LAI 1974”, Jakarta.

Lembaga Alkitab Indonesia, 2000, “Alkitab BIS 1985”, Jakarta.

Lembaga Alkitab Indonesia, 2000, “Akitab Perjanjian Lama Ibrani-Indonesia”, Jakarta.

“Holy Bible King James English Version”

American Bible Society, 2000, “Holy Bible in Contemporary English Version”, New York, ABS.

Rudolph, W., & Ruger, H.P., 1983, “Biblia Hebraica Stuttgartensia”, Stuttgart, Deutsche Biblegesellschaft.

2. Kamus dan Ensiklopedi

Anderson, B.W., 1952, “Lexicon The Analitycal of Hebrew”, Michigand, Grand Rapids.

Baker, D.L., & Sitompul, A.A., 1998 , “Kamus Ibrani ~ Indonesia”, Jakarta, PT BPK GM.

Douglas, J.D., 1990, “Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I A-L”, Jakarta, YKBK/OMF.

_________, 1995, “Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z”, Jakarta, YKBK/OMF.

Kanisius, 1991, “Ensiklopedi Umum”, Yogyakarta, Kanisius.

McElrath, W.N., & Mathias, Billy, 1978, “Ensiklopedia Alkitab Praktis”, Bandung, LLB.

Poerwodarminta, 1984, “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, Jakarta, Balai Pustaka.

Soedarmo, 1994, “Kamus Istilah Teologi”, Jakarta, PT BPK GM.

The Parthenon Press (TTP), 1981, “The Interpreter’s Dictionary Of The Bible (K-Q)”, Nashvile – USA.

Tim Prima Pena, 2000, “Kamus Besar Bahasa Inonesia”, Jakarta.

3. Pengantar Kitab dan Tafsiran

Archer, Gleason L., 1965, “Survey Of Old Testament Introduction”, Chichago – USA, Moody Press.

Baker, D.L., 1996, “Sejarah Kerajaan Allah 1: Perjanjian Lama”, Jakarta, PT BPK GM.

_________, 2004, “Mari Mengenal Perjanjian Lama”, Jakarta, PT BPK GM.

Barth, C., 1993, “Theologia Perjanjian Lama – 3”, Jakarta, PT BPK GM.

Barth, M.C., Pareira, B.A.,2001, “Tafsiran Kitab Mazmur 1-72: Pembimbing dan Tafsirannya”, Jakarta”, PT BPK GM.

_________, 2003, Tafsiran Mazmur 73-150”, Jakarta, PT BPK GM.

Baxter, Sidlow, 2000, “Menggali Isi Alkitab: Ayub sampai Maleakhi”, ,Jakarta, YKBK/OMF.

Benson, Clarence H., 1997, “Pengantar Perjanjian Lama: Puisi dan Nubuat”, Malang, Yayasan Penerbit Gandum Mas.

Blomendaal, J., 1996, “Pengantar Kepada Perjanjian Lama”, Jakarta, PT BPK GM.

Butterick, G.A., 1962, “The Interpreter’s Dictionary of The Bible An Illustrated”, New York, Nashville, Abingdon Press.

Drane, John, 1986, “Memahami Perjanjian Lama III: Iman Perjanjian Lama”, Jakarta, Penerbit YPPB.

Dyrness, William, 2001, “Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama”, Malang, Yayasan Penerbit Gandum Mas.

Eissfeldt Otto, 1965, “The Old Testament, An Introduction”, New York and Evanston, Harper and Row Publishers.

Fohrer, G., 1978, “Introduction to the Old Testament”, London, SPCK.

Groenen, C., 1992, “Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama”, Yogjakarta, Kanisius.

Guthrie, D., 1999, “Tafsiran Alkitab Masa Kini JILID 2”, Jakarta, YKBK/OMF.

Hadiwardoyo MSF., Purwa, 2001, “Catatan – Catatan Singkat Tentang Kitab Suci”, Yogyakarta, Kanisius.

Hinson, David, F., 2002, Sejarah Israel”, Jakarta, PT BPK GM.

Lasor, W.S., dkk, 2000 “Pengantar Perjanjian Lama-1: Taurat dan Sejarah”, Jakarta, PT BPK GM.

_________, 2000, “Pengantar Perjanjian Lama-2: Sastra dan Nabi-nabi”, Jakarta, PT BPK GM.

Bergant, Dian, Lembaga Biblika Indonesia, 2000, “Tafsir Perjanjian Lama”, Yogyakarta, Kanisius.

Naipospos P.S., & Barth, Chr., 1967, “Kitab Mazmur”, Jakarta, PT BPK GM.

Robinson, H.W., 1954, “The History Of Israel Its Facts And Factors”, London, Duckworth.

Sitompul, A.A., & Beyer, U., 2000, “Methode Penafsiran Alkitab”, Jakarta, PT BPK GM.

Suharyanto, Her, 2003, “Memahami Kitab Suci”, Jakarta, Scripta Media.

Weiden, Wim van der, & Suharyo, I., 2000, “Pengatar Kitab Suci Perjanjian Lama”, Yogyakarta, Kanisius.

4. Sumber-sumber lain

Abineno, J.L., Ch., 2000, “Unsur – Unsur Liturgia”, Jakarta, PT BPK GM.

Aritonang, Jan S., 2000, “Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja”, Jakarta , PT BPK GM.

Deursen, A. Van, 2000, “Purbakala Alkitab Dalam Kata Dan Gambar”, Jakarta, PT BPK GM.

Baker, D.L., Siahaan, S.M., & Sitompul, A.A., 2001, “Pengantar Bahasa Ibrani”, Jakarta, PT BPK GM.

Dirks, Jerald F., 2003, “Salib Di Bulan Sabit”

Indonesian Christian Webwatch, 15 Juni 2000. Edisi 066, “Pujian Dan Musik Rohani”, Jakarta, ICW.

Ismail, Andar, 2000, “Mulai Dari Musa Dan Segala Nabi”, Jakarata, PT BPK GM.

_________, 2004, “Selamat Berkembang”, Jakarta, PT BPK GM.

J., David, Rommen, Edward, 1996, “Kontekstualisasi”, Jakarta, PT BPK GM.

Kalam Hidup, 1975, “Firman Allah Yang Hidup”,Bandung,.

Karl – Edmund, 1990, “Inkulturasi Musik”, Yogyakarta, Pusat Musik Liturgika (PML).

Lohse, Bernhard, 2001, “Pengantar Sejarah Dogmatika Kristen”, Jakarta, PT BPK GM.

Lumbantobing, Darwin, 2001, “Berteologi Di dalam Illustrasi”, Pematang Siantar, PLPP-STT HKBP.

Olst, E.H. Van, 1999, “Alkitab Dan Liturgi”, Jakarta, PT BPK GM.

Pasaribu, Rudolf H., 2001, “Iman Kristen”, Medan.

Rhoderick, 2002, “Sejarah Musik – 1”, Jakarta, PT BPK GM.

_________, 2003, “Liturgi Alternatif”, Jakarta, PT ARS.

Riemer, G., 2002 “Cermin Injil: Ilmu Liturgika”, Jakarta, YKBK/OMF.

Sitompul, A.A., 1993, “Bimbingan Tata Kebaktian Gereja”, P. Siantar.

_________, 2000, “Manusia Dan Budaya: Teologi Antropologi”, Jakarta, PT BPK GM.

Sutjiono, S.J., 2003, “Garis-garis besar khotbah: Kitab Mazmur, Injil, Matius, Surat Kolose Dan Surat Yakobus”, Jakarta, GKRI Mangga Besar.

Sumartana, T.H., 1999, “Pergulatan Dan Kontekstualisasi Pemikiran Protestan Indonesia”, Jakarta, STT Jakarta Unit Publikasi dan Informasi.

Verkuyl, J., 1992 “Etika Kristen Dan Kebudayaan”, Jakarta, PT BPK GM.

Vriezen, Th.C., 2001, “Agama Israel Kuno”, Jakarta, PT BPK GM.

Wellem, F.D., 1997, “Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja”, Jakarta, PT BPK GM.

White, James F., 2002 “Pengantar Ibadah Kristen”, Jakarta, PT BPK GM.

LAMPIRAN

TULISAN LATIN MAZMUR 150

  1. Halelu Yah!

Halelu-El beqadesyo, Haleluhu bireqia uzzo!

  1. Haleluhu vigevurotaw, Haleluhu kherov gudelo!
  2. Haleluhu beteqa syofar, Haleluhu benevel wekinnor!
  3. Haleluhu vetof umatol, Haleluhu beminnim weugav!
  4. Haleluhu vetsiltsele-syama, Haleluhu betsiltsele teru’a!
  5. Khol hannesyama tehallel Yah,

Halelu-Yah!

LAMPIRAN


BIODATA PENULIS

1. Nama Lengkap : Buttu Marada Hutagalung

2. Tempat/tanggal lahir : Tarutung, 10 Juli 1981

3. Alamat : Jl. S. Parman No.1b, Tangsi, (BAPPEDA TAPUT), Kec. Tarutung, 22411.

4. Anak ke : Pertama dari empat bersaudara

4. Orang Tua

a) Ibu : S.M. br Situmeang

b) Ayah : H. Hutagalung

5. Pendidikan

a). 1987-1993 : SD Negeri 1/ Tangsi, Tarutung

b). 1993-1996 : SMP Swasta Santa Maria Tarutung

c). 1996-1999 : SMU-1 Swasta HKBP Tarutung

d). 1999-2005 : STAKN Tarutung


NB. :

Kepada para pembaca, saudara/i dapat menggunakannya sebagai sumber, akan tetapi mohon maaf kepada saudara/i, bahwa data ini tidak dapat diperbanyak karena sudah dilindungi hukum. Jika anda ingin memperbanyaksaudara/i harap memohon izin ke penulis dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Tarutung.



About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.